Menulis Dari Hati

Maca Iku Dalane Wong Sukses Dunia Lan Akherat

Menulis Dari Hati

Didi Junaedi

Sebelum melakukan aktivitas menulis, biasanya saya berusaha untuk ‎membersihkan diri dengan berwudlu terlebih dahulu. Selanjutnya, saya ‎meluangkan waktu sejenak untuk merenung (tafakkur), berbicara kepada diri ‎sendiri (self talk), tidak jarang bertanya kepada nurani, apa yang tengah saya ‎rasakan saat ini?‎

Setelah merenung, berbicara dan bertanya kepada diri sendiri, ‎kemudian biasanya akan muncul jawaban, yang nantinya menjadi sebuah ‎bahan tulisan.‎

Mengapa saya perlu melakukan perenungan terlebih dahulu sebelum ‎menulis? Ya, saya ingin agar apa yang saya tulis nanti benar-benar berasal ‎dari hati, bukan sekadar asal nulis. Karena saya yakin, apa yang berasal dari ‎hati, ketika ditulis atau disampaikan kepada orang lain, akan lebih mudah ‎untuk masuk ke dalam hati juga.‎

Saya belajar tradisi positif ini dari para ulama salafussalih, yang telah ‎mewariskan sejumlah karya luar biasa, yang hingga saat ini, setelah melintasi ‎ruang dan waktu berabad-abad lamanya masih bisa kita nikmati manfaatnya.‎

Mereka, para ulama mulia tersebut, ketika hendak menulis karya-karya ‎mereka, mempersiapkan secara matang, lahir-batin, jasmani-rohani, jiwa-raga ‎mereka agar apa yang kelak ditulisnya mampu menghadirkan manfaat dan ‎keberkahan kepada mereka sendiri, dan juga kepada sebanyak mungkin ‎manusia dalam rentang waktu yang lama.‎

Ada di antara mereka yang sebelum menulis membersihkan diri ‎dengan berwudlu atau mandi terlebih dahulu, seperti Imam Malik, pengarang ‎kitab Al-Muwaththa. Ada yang sebelum menulis melaksanakan shalat sunah ‎dua rakaat terlebih dahulu, seperti Imam Al-Bukhari. Apa yang para ulama ‎salafussalih lakukan itu adalah upaya untuk membersihkan diri (tazkiyatun ‎nafs), agar tulisan yang kelak menjadi karya mereka dapat mengalirkan ‎manfaat dan keberkahan sepanjang masa. Terbukti, meski mereka telah wafat ‎berabad-abad lamanya, tetapi karya mereka tetap mengalirkan manfaat ‎hingga saat ini, bahkan mungkin hingga dunia ini berakhir.‎

Tulisan-tulisan serta karya-karya yang lahir dari kesucian diri, ‎kejernihan hati, kedamaian batin akan mampu menggugah siapa pun yang ‎membacanya. Meski antara sang pembaca dan sang penulis terpisah ruang, ‎waktu, dan jarak hingga berpuluh-puluh tahun, bahkan berabad-abad ‎lamanya.‎

Tulisan serta karya yang hadir dari hati akan mampu sampai dan ‎masuk ke dalam hati. Tulisan serta karya yang datang dari kedalaman jiwa ‎akan mampu menggugah dan mencerahkan jiwa.‎

Saya tidak tahu, apakah cara yang saya lakukan sebelum memulai ‎aktivitas menulis, yaitu dengan membersihkan diri (berwudlu) dan merenung ‎menjadikan tulisan saya bisa masuk ke dalam hati, menggungah dan ‎mencerdaskan jiwa ataukah tidak. Saya hanya berharap, dengan cara yang ‎saya tempuh itu, meneladani tradisi positif para ulama salafussalih dapat ‎menghadirkan manfaat dan keberkahan untuk diri saya pribadi khususnya, ‎dan para pembaca pada umumnya.‎

Saya juga memohon kepada Allah Yang Maha Alim, yang telah ‎meneteskan setitik ilmu dari hamparan ilmu-Nya yang tak bertepi, semoga ‎setiap rangkaian kata, susunan kalimat, serta buku yang saya tulis bisa ‎menggugah saya juga pembaca untuk menjadi lebih baik, setiap saat, setiap ‎waktu, sepanjang hayat. ‎

* Ruang Inspirasi, Selasa, 17 November 2020.