«

»

Apr 26

Print this Post

Komunikasi yang Baik, Menepis Syak Wasangka

Oleh : Didi Junaedi

didi3

Didi Junaedi

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari)

Tidak jarang perselisihan, saling curiga, syak wasangka antarsesama, antara seorang anak dengan orang tuanya, suami dengan istrinya, saudara dengan saudaranya muncul disebabkan bukan oleh hal-hal besar, tetapi hanya karena masalah komunikasi yang tidak terjalin dengan baik, atau bahkan terputus, sehingga terjadi miskomunikasi yang berujung pada kesalahpahaman antara satu dengan lainnya.

Ya, masalah komunikasi antarsesama ini sangat penting dan sangat menentukan kualitas hubungan serta harmoni antarsesama. Orang tua yang mampu menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anaknya, akan mampu menciptakan harmoni dalam keluarga. Sepasang suami istri yang mampu menciptakan komunikasi dua arah yang baik, saling terbuka, jujur, tidak ada yang ditutup-tutupi, menjadikan hubungan keduanya terjalin erat, saling percaya, tak ada curiga dan syak wasangka.

Membangun komunikasi yang baik antarsesama dan tetap menjaganya sepanjang masa adalah suatu yang niscaya. Sekali komunikasi itu terhambat, apalagi terputus, maka mulailah muncul benih-benih kecurigaan, ketidaknyamanan, bahkan bisa mengakibatkan hilangnya kepercayaan.

Memang, dalam sebuah hubungan tidak mungkin berjalan mulus tanpa hambatan, selalu saja ada rintangan dan ujian yang datang menghadang. Tetapi, semua rintangan dan ujian itu akan bisa dilewati dengan baik, jika komunikasi antarsesama terjalin dengan baik.

Cara yang paling efektif untuk membangun komunikasi, agar tetap terjaga dan terjalin dengan baik adalah dengan menghargai antarsesama, dan memperhatikan perasaan masing-masing.

Penghargaan serta perhatian kepada perasaan setiap orang adalah mutlak adanya. Belajarlah menghargai perasaan orang lain, sebagaimana kita juga ingin dihargai perasaannya. Hadirkan rasa percaya kepada sesama, antara anak dan orang tua, istri dan suami, saudara dan saudara, juga tetangga dan tetangga. Jangan pernah mengabaikan masalah perasaan ini. Karena sekali perasaan tersakiti, seumur hidup akan terus diingat, meski bibir sudah mengucap kata maaf.

So, mulai saat ini, mari kita jaga komunikasi dengan baik antarsesama agar menepis segala syak wasangka. Komunikasi antara anak dan orang tua, istri dan suami, saudara dan saudara, tetangga dan tetangga.

Hanya dengan cara seperti ini, kita akan terhindar dari perselisihan, rasa saling curiga, serta menumbuhkan saling percaya.

————————————————————-
* Ruang Inspirasi, Sabtu, 27 April 2019

About the author

tohirin

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/komunikasi-yang-baik-menepis-syak-wasangka/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>