«

»

Apr 30

Print this Post

Ketika Kita Telah Tiada

Oleh : Didi Junaedi

didi21

Didi Junaedi

Sesekali, cobalah kita mengambil jeda dari rutinitas hidup yang melelahkan ini, untuk berbicara dengan nurani kita. Ajukanlah beberapa pertanyaan mendasar tentang keberadaan kita saat ini, kemudian merenungkan apa yang terjadi setelah kita tiada nanti.

Jika keberadaan kita saat ini diakui oleh orang lain karena harta yang kita miliki, ilmu yang kita punyai, kedudukan dan jabatan yang kita pegang, serta popularitas yang kita sandang, akankah itu semua akan tetap bertahan hingga saat kita telah tiada nanti?

Pertanyaan selanjutnya kemudian, apakah semua hal itu; harta, ilmu, kedudukan dan jabatan, serta popularitas yang kita nikmati dan banggakan di dunia akan menghadirkan manfaat untuk kita setelah ketiadaaan kita nanti?

Sejumlah pertanyaan di atas penting kita ajukan kepada diri kita masing-masing, sebagai bahan renungan, agar kita menyadari hakekat keberadaan kita saat ini, serta mempersiapkan ketiadaan kita nanti.

Pengalaman hidup menunjukkan bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Limpahan materi yang dimiliki seseorang, yang karenanya ia dihargai keberadaanya oleh orang lain, segera tak berarti apa-apa ketika sang pemilik itu dipanggil Sang Mahakuasa. Seluruh harta akan ditinggalkannya. Pakaian bermerek yang biasa dikenakan akan berganti beberapa helai kain kafan. Mobil mewah yang biasa dia kendarai mengantarnya ke sana kemari, segera berganti keranda yang ditandu manusia. Dia pun kini tinggal nama.

Sederet gelar akademis yang selalu tersemat di depan dan di belakang nama seseorang, tak bisa menjadikannya abadi, ketika ajal sudah menghampiri.

Kedudukan dan jabatan yang disandang seseorang, yang dulu dibangga-banggakan, segera akan beralih ke orang lain, ketika dia sudah dipanggal ke haribaan Sang Pencipta.

Pun demikian halnya dengan popularitas menjulang yang melambungkan nama seseorang, hanya tinggal kenangan, ketika si pemiliknya telah tiada.

Lantas, apa yang akan menjadikan seseorang abadi, meski tubuhnya sudah berada di perut bumi? Apa yang membuat namanya tetap semerbak sepanjang masa, meski jasadnya sudah berkalang tanah?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau menyatakan, “Jika seseorang telah meninggal dunia, maka tiga hal yang tak akan putus (nilainya di sisi Allah); sedekah yang mengalir (pahalanya), ilmu yang menghadirkan manfaat, serta keturunan (anak-cucu/generasi penerus) yang salih-salihah yang mendoakannya.”

Dari keterangan Nabi Saw. tersebut dapat dipahami, bahwa ketika kita telah tiada nanti, hanya amal salih; harta yang kita belanjakan di Jalan Tuhan, ilmu yang kita dermakan kepada sesama, serta keturunan yang salih-salihah yang akan mengabadikan nama kita, dan terus mengalirkan pahala ke rekening akhirat kita.

Semoga kita mampu menjaga nama baik kita, agar tetap harum mewangi, meski sudah meninggalkan dunia ini, dengan amal salih yang kita lakukan.

—————————————————————————–
* Refleksi Diri, Selasa, 30 April 2019. Di sudut kamar kos, Ciputat.

About the author

tohirin

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/ketika-kita-telah-tiada/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>