«

»

Apr 13

Print this Post

Istikamah : Kunci Produktif Berkarya

Oleh : Didi Junaedi *

Didi Junaedi

Didi Junaedi

Ada satu pertanyaan yang berulang kali disampaikan kepada saya, baik ‎secara langsung ketika bertemu muka, maupun melalui media sosial, seperti: ‎Fb, WA, Twitter, Instagram dan lainnya. Pertanyaan yang dimaksud ‎adalah: Bagaimana cara agar produktif berkarya?‎

Pertanyaan tersebut muncul, mungkin didasari oleh sebuah kenyataan ‎bahwa setiap hari saya selalu menulis artikel untuk diposting di beranda fb ‎saya, atau saya share di Grup WA yang saya ikuti. Selain itu, mungkin juga ‎karena saya menampilkan cover foto di Fb, berupa sejumlah buku saya yang ‎sudah diterbitkan. Mungkin pula, karena tak henti-hentinya saya memotivasi ‎dan menyemangati para sahabat di fb, para mahasiswa di sejumlah perguruan ‎tinggi tempat saya mengajar, juga di forum-forum seperti acara Bedah Buku, ‎Seminar Kepenulisan, dan berbagai acara literasi lainnya untuk menulis setiap ‎hari, berkarya tak pernah henti hingga mati.‎

Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat sederhana: Istikamah. Ya, ‎kata kuncinya adalah istikamah, atau dalam bahasa Indonesia sering ‎diterjemahkan dengan konsisten, ajeg, terus-menerus, berkesinambungan.‎

Istikamah inilah yang memungkinkan saya untuk bisa terus produktif ‎berkarya di tengah kesibukan aktivitas saya sebagai dosen, penutur agama ‎‎(da’i), ayah bagi putra-putri saya, juga suami bagi istri saya, dan tentunya ‎penulis.‎

Istikamah ini sebuah kata yang sangat singkat, mudah diucapkan, ‎tetapi butuh perjuangan dan pengorbanan untuk dilaksanakan. Mudahnya ‎mengucapkan istikamah ini semudah membalik telapak tangan. Tetapi, ‎beratnya pelaksanaan istikamah ini, seberat bangun di tengah malam untuk ‎qiyamul lail, kemudian dilanjutkan dengan menunggu waktu shalat subuh ‎berjamaah di masjid. Bahkan, mungkin lebih berat dari itu.‎

Meski berat, tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau ‎berusaha. Meski susah, tetapi tidak ada yang mustahil kalau kita mau ‎bersungguh-sungguh denga niat yang kuat, tekad yang bulat.‎

I’maluu fauqa ma ‘amiluu… bekerjalah di atas rata-rata (yang ‎dikerjakan) orang lain. Tidak ada kesuksesan yang didapat dengan cuma-‎cuma. Tidak ada keberhasilan yang diraih hanya dengan bersantai ria. Tidak ‎ada kenikmatan kecuali setelah bersusah payah. Wa ma alladzdzatu illa ba’da ‎al-ta’abi. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kesuksesan. ‎

Prinsip inilah yang terus saya pegang teguh. Karena saya sudah ‎berkomitmen pada diri sendiri untuk terus berkarya hingga ajal menjemput, ‎maka tidak ada kata lain selain istikamah, konsisten, dengan disiplin tinggi ‎untuk mewujudkan cita-cita tersebut.‎

Alhamdulillah, dengan memegang teguh prinsip istikamah, disertai ‎disiplin tinggi,  sejak  2010 hingga 2019 ini, ada sekitar 17 karya solo berupa buku yang sudah diterbitkan oleh sejumlah penerbit mayor di Indonesia, juga puluhan karya patungan berupa antologi yang sudah diterbitkan bersama penulis lain. Ditambah lagi beberapa artikel di sejumlah jurnal ilmiah. Semua ini bisa terwujud karena prinsip istiqamah dan disiplin tinggi yang saya pegang teguh. Dan tentunya, atas izin Allah saya bisa melakukan semua itu.

Istikamah dan disiplin tinggi, serta selalu menyertakan Allah. Inilah jawaban saya atas pertanyaan yang berulang kali disampaikan ‎kepada saya. Semoga apa yang saya lakukan ini menjadi inspirasi dan ‎motivasi untuk semua. Dan yang paling utama, tentu saya berharap semoga ‎apa yang saya lakukan ini diridai oleh Allah Swt. Amiiin..‎

——————————————————–

* Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon / Ruang Inspirasi, Sabtu, 13 April 2019.

About the author

tohirin

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/istikamah-kunci-produktif-berkarya/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>