Tohirin

Author's details

Date registered: July 21, 2016

Latest posts

  1. Agama dalam Bingkai Konflik — April 23, 2019
  2. Habis Gelap Terbitlah Terang — April 23, 2019
  3. Menjaga Lisan — April 22, 2019
  4. Bersyukur dengan Menulis — April 21, 2019
  5. Sekolah Kehidupan — April 20, 2019

Author's posts listings

Apr 23

Agama dalam Bingkai Konflik

Oleh : Didin Nurul Rosyidin

s200_didin.nurul_rosidinAgama memiliki fungsi ambivalen. Di satu sisi, ia berfungsi sebagai social cement (Turner: 1991: ix) yang dapat merekatkan hubungan individu maupun kelompok yang memiliki latarbelakang etnik, bahasa dan kelas sosial ekonomi yang berbeda. Agama mampu berperan sebagai alat membangun solidaritas sekaligus loyalitas yang tinggi bagi para pemeluknya. Di sisi lain, agama juga mampu menjadi faktor signifikan bagi munculnya konflik sosial yang luar biasa implikasinya karena melibatkan sisi yang paling dalam pada emosi manusia (Turner: 1991: ix). Lebih jauh, konflik atau perbedaan tidak saja terjadi antara pemeluk agama yang berbeda seperti antara Muslim dan Kristen tetapi juga pemeluk satu agama tetapi berbeda pemahaman ajarannya seperti antara pengikut Sunni dan Syari’ah.

Pluralisme dan Konflik Antar Agama

Pluralime agama telah menjadi sebuah persoalan sejak munculnya ajaran agama yang tidak lagi satu, yang sama dan serupa. Konsep ini secara fundamental menjadi acuan bagi terciptanya hubungan antar agama yang harmonis. Namun demikian, seiring dengan meningkatnya perjuangan menegakkan agama, pluralisme agama menjadi bayangan yang utopis karena hubungan antar agama lebih banyak dihiasi oleh konflik dan pertentangan yang tidak sedikit justru merenggut jiwa manusia yang ironisnya sangat dijunjung tinggi oleh masing-masing ajaran agama.

Baca selengkapnya di : Download full tex.pdf

—————————————————-

Artikel ini dimuat juga di  : http://www.mediasiwalisongo.com/2016/02/didin-nurul-rosidin.html

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/agama-dalam-bingkai-konflik/

Apr 23

Habis Gelap Terbitlah Terang

Oleh : Didi Junaedi

Didi Junaedi

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Ibrahim: 1)

Imam Al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, ketika menafsirkan kalimat litukhrija al-nas min al-dzulumat ila al-nur pada rangkaian ayat di atas, menjelaskan bahwa di antara fungsi al-Qur’an adalah mengeluarkan seseorang dari gelapnya kekafiran serta sesatnya kebodohan menuju terangnya cahaya keimanan dan ilmu pengetahuan.

Al-Qurthubi mengilustrasikan kekafiran dan kebodohan dengan kegelapan dan kesesatan. Sedangkan Iman dan ilmu pengetahuan digambarkan sebagai cahaya yang terang benderang.

Sungguh tepat perumpamaan yang digambarkan oleh al-Qurthubi. Orang-orang kafir adalah mereka yang menutup diri dari cahaya kebenaran, sehingga mereka tetap berada dalam kegelapan. Mereka abaikan semua keterangan yang diberikan oleh al-Qur’an. Mereka larut dalam keangkuhan dan kesombongan. Mereka terlelap dalam pelukan nafsu. Mereka tenggelam dalam keyakinan yang menyengsarakan.

Al-Qurthubi juga mengilustrasikan kebodohan dengan kesesatan. Ya, orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan adalah orang-orang yang akan tersesat. Mereka tidak mengetahui arah dan tujuan hidup di dunia ini. Mereka berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Mereka melangkah tanpa berpikir. Mereka bertindak tanpa mempertimbangkan resiko yang akan didapatnya. Merekalah orang-orang yang akan tersesat. Jika dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan, mereka pun akan menyesatkan orang lain.

Dalam kondisi seperti inilah, seseorang memerlukan petunjuk (hidayah) yang akan membimbing, menuntun serta mengantarkannya dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, dari kesesatan menuju kebenaran. Dan petunjuk itu adalah al-Qur’an.

Al-Qur’an menegaskan dirinya sebagai hudan li al-nas, petunjuk bagi umat manusia. Artinya, bahwa al-Qur’an adalah pedoman hidup yang berisi tuntunan serta ajaran yang akan menuntun setiap manusia menuju jalan yang terang benderang. Al-Qur’an akan melepaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kesesatan menuju kebenaran, dari ketidakmenentuan menuju kepastian, dari kesengsaraan menuju kebahagiaan.

Di era modern sekarang ini, ketika seseorang telah mencapai kesuksesan duniawi, tidak jarang ia merasakan kegamangan hidup dan kegersangan jiwa. Hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya antara capaian duniawi yang bersifat materi-jasadi dengan capaian ukhrawi yang bersifat spiritual-ruhani. Dari sisi materi mereka tidak kekurangan, bahkan berkelimpahan. Sementara dari sisi rohani mereka kosong, kering kerontang.

Kekosongan rohani inilah yang pada gilirannya membuat hati mereka galau, batin mereka gelisah, jiwa mereka resah. Mereka pun kemudian mencari alternatif jawaban untuk masalah yang tengah dihadapinya. Di antara mereka ada yang mendatangi orang-orang  ‘pintar’ atau sering disebut dengan ‘guru spiritual’, ‘penasehat spiritual’ untuk menanyakan jawaban atas persoalan yang dihadapinya. Ada juga yang mencari jawaban dengan membaca buku-buku motivasi. Bahkan, tidak sedikit yang mengalihkan perhatian atas persoalan yang dihadapinya dengan menghabiskan hari-harinya di tempat-tempat hiburan.

Padahal, jika mereka mau merenung sejenak, maka akan didapati jawaban atas persoalan yang dihadapinya terletak pada ajaran serta tuntunan agama. Dalam hal ini, al-Qur’an menjadi solusi yang tepat atas setiap persoalan yang tengah dihadapi oleh setiap orang. Al-Qur’an akan menunjukkan jalan keluar atas setiap persoalan yang dihadapi oleh manusia. Al-Qur’an akan menuntun, membimbing dan mengarahkan manusia untuk keluar dari masalah. Al-Qur’an menjadi pelita yang akan menerangi jalan orang-orang yang tengah dirundung masalah, ditimpa kesulitan dan dililit persoalan. Dengan menjadikan al-Qur’an sebagai buku panduan kehidupan, maka ungkapan “habis gelap terbitlah terang” akan benar-benar terwujud.

——————————————————————–

* Ruang Inspirasi, Selasa, 23 April 2019

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/habis-gelap-terbitlah-terang/

Apr 22

Menjaga Lisan

Oleh : Didi Junaedi

didi 5

Didi Junaedi

Sebuah pepatah bahasa Arab menyebutkan:

Al-Kalamu yanfudzu ma la tanfudzuhu al-ibaru

‘Ucapan itu dapat menembus apa yang tidak dapat ditembus oleh jarum’.

Ungkapan di atas seakan menegaskan tentang betapa pentingnya seseorang menjaga lisannya. Ya, menjaga lisan, atau menjaga ucapan merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup ini. Karena membiarkan lisan kita untuk mengucapkan apa pun yang ada di benak kita tanpa pikir panjang, hanya akan berdampak buruk bagi diri kita.

Betapa banyak orang yang begitu menyesal setelah dia mengucapkan sesuatu yang ternyata berdampak buruk bagi dirinya di kemudian hari. Betapa banyak pula orang berurusan dengan hukum gara-gara ucapannya dianggap melecehkan, mendiskriditkan dan menyakiti orang lain.

Begitu pentingnya sebuah ucapan, sehingga Rasulullah Saw menjadikannya sebagai pra-syarat keimanan seseorang. Beliau menegaskan dalam salah satu sabdanya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam…” (HR. Bukhari-Muslim)

Perkataan yang baik, akan menyamankan, menentramkan, mendamaikan, sekaligus membahagiakan orang yang mendengarnya. Orang yang selalu berkata baik apalagi sopan, akan mendapat tempat di hati orang lain. Orang akan menghargai dan terkesan dengan ucapannya.

Sebaliknya, seseorang yang terbiasa mengucapkan kata-kata yang buruk, kasar bahkan seringkali menyakitkan, dengan kata lain tidak bisa menjaga lisannya, bisa dipastikan bahwa dia akan dijauhi orang, tidak akan pernah mendapat tempat di hati orang lain, dan pada gilirannya dia akan menanggung akibat dari apa yang diucapkannya.

Mulutmu harimaumu, demikian sebuah petuah bijak menyebutkan. Jika mulut tidak dijaga dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi sumber malapetaka. Ibarat harimau, jika tidak dijinakkan dia akan menerkam apa pun yang ada di sekelilingnya.

Maka, berhati-hatilah dengan mulut. Berhati-hatilah dengan lisan dan ucapan kita. Ia bisa menjadi sahabat yang akan membawa kita pada posisi terhormat di mata manusia dan di hadapan Allah. Di sisi lain, ia juga bisa menjadi musuh yang akan menjerumuskan kita ke jurang kesengsaraan.

—————————————————–

* Ruang Inspirasi, Senin, 22 April 2019

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/menjaga-lisan/

Apr 21

Bersyukur dengan Menulis

Oleh : Didi Junaedi

Didi Junaedi

Didi Junaedi

Ada banyak cara untuk bersyukur atau mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita. Salah satu cara untuk bersyukur yang saya lakukan adalah dengan menulis. Ya, dengan menulis saya berusaha mensyukuri nikmat ilmu yang telah Tuhan berikan kepada saya, juga nikmat-nikmat lainnya yang begitu melimpah ruah meliputi kehidupan saya.

Bukankah Tuhan sendiri yang memerintahkan kepada hamba-Nya untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya? Dalamsalah satu friman-Nya yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’andinyatakan: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”

Itulah mengapa saya sering sekali menuliskan apa saja yang saya alami dan rasakan. Dalam bahasa Pak Hernowo, mengikat makna. Ya, mengikat makna, yang mulanya dimaksudkan untuk menuliskan hasil bacaan kita dari buku, majalah, artikel, atau bahkan film, kemudian saya perluas lagi dengan mengikat makna dari setiap peristiwa dan kejadian sehari-hari yang saya alami dan rasakan.

Saya yakin, bahwa setiap pengalaman berupa peristiwa, kejadian serta fenomena yang terjadi, kita alami dan rasakan, baik yang menyenangkan atau yang menyakitkan,baik yang membuat kita tersenyum lebar atau yang membuatkan meneteskan air mata, pasti mengandung hikmah serta pelajaran yang hendak disampaikan Tuhan kepada kita.

Untuk itulah, agar setiap momen, peristiwa dan pengalaman itu tidak menguap begitu saja, maka saya selalu menuliskannya. Jika saya rasa itu punya manfaat untuk sesama, biasanya saya posting atau share di medsos seperti FB ata WA. Tetapi, jika saya anggap tidak menghadirkan manfaat, biasanya saya simpan sendiri di file laptop saya.

Dengan menuliskan apa yang kita pahami dari sebuah ilmu atau pengetahuan yang kita miliki, misalnya, kemudian kita bagikan melaui media sosial, atau diterbitkan menjadi sebuah buku, maka itu artinya kita sudah mensyukuri nikmat ilmuyang Tuhan berikan kepada kita.

Dengan mengikat ilmu dan pengetahuan yang kita miliki melalui tulisan, apalagi kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku, maka ilmu dan pengetahuan yang kita miliki itu pun akhirnya berkembang, menghadirkan manfaat yang lebih luas karena bisa dinikmati oleh orang lain.

Dengan mengikat setiap peristiwa dan kejadian yang kita alami dan rasakan melalui sebuah tulisan, maka jejak sejarah kehidupan kita pun terekam jelas, tidak mudah hilang ditelan zaman.

Baik ilmu atau pun pengalaman yang terikat kuat dengan tulisan, maka akan menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita di kemudian hari. Dengan demikian, ketika kita membaca kembali jejak perjalanan keilmuan dan pengalaman hidup kita itu, akan memunculkan rasa syukur atas seluruh karunia yang Tuhan berikan kepada kita.

Inilah yang saya sebut dengan bersyukur dengan menulis, seperti dimaksud judul di atas.

————————————————
* Ruang Inspirasi, Ahad, 21 April 2019

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/bersyukur-dengan-menulis/

Apr 20

Sekolah Kehidupan

Oleh : Didi Junaedi

DIDI4

Didi Junaedi

Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapakah diantara kalian yang paling baik amalanya.” (QS. Al Mulk : 2).

Kehidupan ini ibarat sebuah sekolah, kita semua (umat manusia) adalah muridnya. Allah Swt. adalah Sang Mahagurunya. Fenomena alam serta seluruh peristiwa yang terjadi di muka bumi ini adalah pelajarannya. Kesuksesan dan kegagalan, anugerah dan musibah, nikmat dan bencana adalah ujiannya. Tanda kelulusan atau ijazahnya adalah kearifan sikap, kesantunan perilaku serta kemuliaan akhlak yang melekat dalam diri seseorang, setelah melalui serangkaian pelajaran serta ujian kehidupan tersebut.

Berbeda halnya dengan sekolah formal yang dibatasi oleh ruang dan waktu pembelajaran. Sekolah kehidupan tidak dibatasi oleh sekat ruang dan waktu. Proses pembelajaran berlangsung setiap saat, setiap waktu. Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun, proses pembelajaran terus menerus berlangsung. Tidak ada istilah libur dalam sekolah kehidupan.

Pelajaran yang diberikan Sang Mahaguru pun beragam, sesuai dengan tingkat kualitas diri masing-masing pribadi. Setiap pelajaran yang diberikan selalu mengandung pesan tersembunyi yang hendak disampaikan oleh Sang Mahaguru. Sayangnya, tidak setiap murid (baca: manusia) memahami maksud Sang Mahaguru. Ada murid yang memang berusaha keras dengan penuh kesabaran untuk memahami pesan Sang Mahaguru, dan akhirnya berhasil mendapatkan pesan tersembunyi (baca: hikmah) dari pelajaran yang diterimanya. Ada juga murid yang tidak mau bersusah payah untuk mencoba memahaminya. Walhasil, alih-alih mendapatkan maksud atau inti dari pelajaran yang diterimanya, justru dia semakin kebingungan, bahkan putus asa dengan pelajaran yang diberikan oleh Sang Mahaguru.

Life is never flat. Hidup ini tak pernah datar, demikian sebuah ungkapan menyebutkan. Hidup penuh liku-liku.. ada suka ada duka.. semua insan pasti pernah merasakannya… demikian kata Camelia Malik dalam salah satu syair lagunya. Ya, hidup ini memang penuh liku, berkelok-kelok, menanjak-menurun, kadang terjal, sesekali lempang, kali lain licin.

Warna-warni jalan kehidupan inilah yang justru menjadikan hidup ini dinamis, penuh tantangan dan mengasyikkan. Gairah hidup akan terus membara ketika setiap saat, setiap waktu, kita dihadapkan pada pengalaman-pengalaman baru. Semangat hidup akan terus menyala, ketika setiap detik yang kita lalui dilingkupi oleh serangkaian peristiwa yang menjadikan kita lebih dewasa.

Hidup justru akan terasa membosankan jika tidak ada tantangan, monoton, tidak ada hal-hal baru yang hadir dalam kehidupan kita. Gairah hidup akan meredup ketika hari demi hari kita lewati dengan rutinitas tanpa kreativitas. Semangat hidup akan memudar ketika waktu demi waktu kita lalui dengan hambar, karena tidak ada hal-hal besar yang kita lakukan.

Sekolah kehidupan mengajarkan kepada kita tentang banyak hal. Dari hal-hal yang remeh-temeh, hingga yang bikin kening berkerut. Tetapi, satu yang pasti bahwa setiap pelajaran yang kita dapatkan dalam sekolah kehidupan ini akan sangat berharga bagi perjalanan hidup kita selanjutnya di masa yang akan datang.

Selalu ada hikmah yang tersembunyi di balik setiap peristiwa dan kejadian yang ada di muka bumi ini. Selalu ada pesan yang hendak disampaikan oleh Sang Mahaguru dalam setiap pengalaman hidup yang kita jumpai. Baik itu pengalaman yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan. Baik yang membuat kita tersenyum atau menjadikan kita menangis. Baik yang mengguratkan kenangan manis, ataupun yang menyisakan kenangan pahit. Kesemua peristiwa dan kejadian yang kita alami dan saksikan itu pasti mengandung pelajaran berharga, pesan penting serta hikmah yang agung.

Jika kita belajar sungguh-sungguh di Sekolah kehidupan ini, maka kita akan semakin arif dalam berucap, bersikap dan bertindak. Kita akan semakin bijak dalam menghadapi setiap persoalan yang silih berganti datang menjumpai. Singkatnya, kita akan semakin dewasa dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Namun sebaliknya, jika kita tidak pernah mau belajar dari pengalaman yang kita dapatkan di sekolah kehidupan ini, maka kita akan terus menerus terpuruk ketika persoalan hidup datang bertumpuk-tumpuk. Kita akan merasa gamang menjalani kehidupan, ketika masalah demi masalah selalu datang menghadang. Bukan tidak mungkin, kita akan frustrasi ketika ujian dan cobaan hidup terus menghampiri.

Sekolah kehidupan hanya akan meluluskan dan mewisuda manusia-manusia tangguh bermental baja, yang setiap saat menempa diri dengan pelbagai ujian dan cobaan hidup. Sekolah kehidupan tidak pernah meluluskan manusia-manusia rapuh yang terus-menerus mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan, tanpa ada kesadaran untuk menatap masa depan yang lebih cerah.
* Ruang Inspirasi, Sabtu, 20 April 2019

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/sekolah-kehidupan/

Apr 13

Istikamah : Kunci Produktif Berkarya

Oleh : Didi Junaedi *

Didi Junaedi

Didi Junaedi

Ada satu pertanyaan yang berulang kali disampaikan kepada saya, baik ‎secara langsung ketika bertemu muka, maupun melalui media sosial, seperti: ‎Fb, WA, Twitter, Instagram dan lainnya. Pertanyaan yang dimaksud ‎adalah: Bagaimana cara agar produktif berkarya?‎

Pertanyaan tersebut muncul, mungkin didasari oleh sebuah kenyataan ‎bahwa setiap hari saya selalu menulis artikel untuk diposting di beranda fb ‎saya, atau saya share di Grup WA yang saya ikuti. Selain itu, mungkin juga ‎karena saya menampilkan cover foto di Fb, berupa sejumlah buku saya yang ‎sudah diterbitkan. Mungkin pula, karena tak henti-hentinya saya memotivasi ‎dan menyemangati para sahabat di fb, para mahasiswa di sejumlah perguruan ‎tinggi tempat saya mengajar, juga di forum-forum seperti acara Bedah Buku, ‎Seminar Kepenulisan, dan berbagai acara literasi lainnya untuk menulis setiap ‎hari, berkarya tak pernah henti hingga mati.‎

Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat sederhana: Istikamah. Ya, ‎kata kuncinya adalah istikamah, atau dalam bahasa Indonesia sering ‎diterjemahkan dengan konsisten, ajeg, terus-menerus, berkesinambungan.‎

Istikamah inilah yang memungkinkan saya untuk bisa terus produktif ‎berkarya di tengah kesibukan aktivitas saya sebagai dosen, penutur agama ‎‎(da’i), ayah bagi putra-putri saya, juga suami bagi istri saya, dan tentunya ‎penulis.‎

Istikamah ini sebuah kata yang sangat singkat, mudah diucapkan, ‎tetapi butuh perjuangan dan pengorbanan untuk dilaksanakan. Mudahnya ‎mengucapkan istikamah ini semudah membalik telapak tangan. Tetapi, ‎beratnya pelaksanaan istikamah ini, seberat bangun di tengah malam untuk ‎qiyamul lail, kemudian dilanjutkan dengan menunggu waktu shalat subuh ‎berjamaah di masjid. Bahkan, mungkin lebih berat dari itu.‎

Meski berat, tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau ‎berusaha. Meski susah, tetapi tidak ada yang mustahil kalau kita mau ‎bersungguh-sungguh denga niat yang kuat, tekad yang bulat.‎

I’maluu fauqa ma ‘amiluu… bekerjalah di atas rata-rata (yang ‎dikerjakan) orang lain. Tidak ada kesuksesan yang didapat dengan cuma-‎cuma. Tidak ada keberhasilan yang diraih hanya dengan bersantai ria. Tidak ‎ada kenikmatan kecuali setelah bersusah payah. Wa ma alladzdzatu illa ba’da ‎al-ta’abi. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kesuksesan. ‎

Prinsip inilah yang terus saya pegang teguh. Karena saya sudah ‎berkomitmen pada diri sendiri untuk terus berkarya hingga ajal menjemput, ‎maka tidak ada kata lain selain istikamah, konsisten, dengan disiplin tinggi ‎untuk mewujudkan cita-cita tersebut.‎

Alhamdulillah, dengan memegang teguh prinsip istikamah, disertai ‎disiplin tinggi,  sejak  2010 hingga 2019 ini, ada sekitar 17 karya solo berupa buku yang sudah diterbitkan oleh sejumlah penerbit mayor di Indonesia, juga puluhan karya patungan berupa antologi yang sudah diterbitkan bersama penulis lain. Ditambah lagi beberapa artikel di sejumlah jurnal ilmiah. Semua ini bisa terwujud karena prinsip istiqamah dan disiplin tinggi yang saya pegang teguh. Dan tentunya, atas izin Allah saya bisa melakukan semua itu.

Istikamah dan disiplin tinggi, serta selalu menyertakan Allah. Inilah jawaban saya atas pertanyaan yang berulang kali disampaikan ‎kepada saya. Semoga apa yang saya lakukan ini menjadi inspirasi dan ‎motivasi untuk semua. Dan yang paling utama, tentu saya berharap semoga ‎apa yang saya lakukan ini diridai oleh Allah Swt. Amiiin..‎

——————————————————–

* Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon / Ruang Inspirasi, Sabtu, 13 April 2019.

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/istikamah-kunci-produktif-berkarya/

Apr 11

Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis

Oleh : Didi Junaedi

DIDI

Didi Junaedi

“…Demi Pena dan apa yang mereka tuliskan”.(Q.S. Al-Qalam: 1).

Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Kitab Tafsirnya Al-Durr al-Mantsur fi Tafsir al-Ma’tsur, ketika menafsirkan ayat pertama surah al-Qalam tersebut, mengutip riwayat hadis dari Ibn Abbas, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena), kemudian Allah berkata kepadanya, Tulislah! Pena pun menjawab, Wahai Tuhan apa yang harus aku tulis. Allah menjawab, tulislah qadar(ketentuan). Maka, sejak saat itu berlakulah ketentuan-ketentuan Allah hingga hari kiamat.

Dari rangkaian ayat di atas, jelaslah betapa pentingya pena, hingga Allah Swt pun bersumpah dengannya. Menurut Ibn Katsir, kata “wa al-Qalami”, secara lahiriyah berarti demi pena yang digunakan untuk menulis. Seperti firman Allah pada Q.S. Al-‘Alaq: 4, “Dia yang mengajarkan dengan qalam(pena)”.

Lebih lanjut, Ibn Katsir menegaskan bahwa kataWa al-Qalami (demi pena) adalah sumpah (qasam) Tuhan pertama dalam Al-Qur’an yang turun tidak lama setelah lima ayat pertama dalam surat al-‘Alaq.

Dalam al-Quran, secara eksplisit kata ‘qalam’, yang berarti pena  disebut sebanyak tiga kali, yaitu pada Q.S. Al-‘Alaq: 4, Q.S. Al-Qalam: 1, dan Q.S. Luqman: 27.

Ada ulama yang berpendapat bahwa al-Qalam bermakna pena tertentu, seperti pena yang digunakan oleh para malaikat untuk menulis takdir baik dan buruk manusia, serta segala kejadian yang tercatat dalam Lauh Mahfuz, atau pena yang digunakan oleh para sahabat untuk menuliskan al-Qur’an, dan pena yang digunakan untuk menuliskan amal baik dan  amal buruk yang dilakukan manusia.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah memaknai al-Qalam dengan pena serta alat tulis apa pun termasuk komputer. Pemaknaan seperti ini, menurut penulislebih tepat karena sejalan dengan kata perintah iqra’ (bacalah).

Kita semua mafhum bahwa ketika Allah bersumpah dengan sesuatu, maka tentu ada pesan yang ingin disampaikan melalui ‘sesuatu’ yang dijadikan sumpah tersebut. Demikian halnya ketika Allah Swt. bersumpah dengan qalam (pena).

Para ulama tafsir mengungkapkan bahwa sesuatu yang dijadikan sumpah oleh Allah adalah sesuatu yang mulia, bernilai dan bermakna. Dalam hal ini, ketika Allah bersumpah dengan qalam, maka sesungguhnya, menurut mayoritas ulama tafsir, Allah ingin menunjukkan kepada kita semua betapa pentingnya qalam (pena) dalam kehidupan kita.

Dengan pena, ilmu pengetahuan di jagad raya ini bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia, yakni dengan ditulis, dibukukan dan diterbitkan. Dengan pena pula para ilmuwan mengabadikan karya-karya besar mereka, yang pada gilirannya menghadirkan pencerahan dan pencerdasan bagi masyarakat.

Bisa dibayangkan jika di dunia ini tidak ada pena atau alat tulis lainnya. Semua ilmu pengetahuan yang pernah ada di muka bumi ini akan sirna ditelan zaman. Karena, begitu seorang ilmuwan meninggal, tidak ada lagi ilmu yang bisa disampaikan. Hal ini disebabkan karena ilmu yang dimilikinya tidak diabadikan melalui karya-karya tulis mereka.

Pepatah latin mengatakan, scripta manent verba volant. Tulisan akan abadi, sedangkan ucapan akan hilang.

Semakin jelas betapa pentingnya pena dalam kehidupan ini. Proses pencerdasan dan pencerahan umat manusia tidak bisa dipisahkan dari peran pena yang digunakan oleh para ulama untuk menghasilkan karya-karya besar mereka. Beragam ilmu pengetahuan dari masa ke masa masih terekam jelas melalui karya-karya bersejarah tersebut, hingga saat ini masih terus dikaji oleh para ilmuwan. Ada jalinan erat antar ilmuwan dari generasi ke generasi. Semua itu bisa terjadi karena adanya peran qalam dalam proses transformasi pengetahuan.

Saat ini, tafsir atas qalam bisa berupa gadget, hand phone, smart phone, laptop, serta apa saja perangkat yang bisa menjadi sarana atau wasilah kita menebar dan menyebarkan pengetahuan yang kita miliki. Lebih-lebih, saat ini kita dimajakan dengan adanya media sosial seperti facebook, twitter, WhatsApp (WA), Instagram (IG) dan yang lainnya. Adalah naif jika kita tidak memanfaatkan semua wasilah dan perangkat tersebut untuk menebar dan menabur benih-benih kebaikan berupa pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Padahal dengan berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman, kita akan semakin dilimpahi kebaikan dan keberkahan oleh Allah Swt., karena ada manfaat yang diperoleh orang lain atas apa yang kita bagikan.

Inilah alasan utama, mengapa saya tak henti-hentinya berbagi sedikit ilmu, pengetahuan dan pengalaman kepada siapa saja melalui media apa saja. Saya hanya berharap, dengan sedikit ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang saya bagikan ini, mudah-mudahan Allah melimpahkan kebaikan dan keberkahan hidup kepada saya, di dunia ini dan di akhirat nanti. Semoga.

—————————————————

* Ruang Insprasi, Kamis, 11 April 2019

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/demi-pena-dan-apa-yang-mereka-tulis/

Mar 05

Pusat Perpustakaan IAIN SNJ Cirebon Menyelenggarakan Small Talk"Nerbitin Buku"

1Pusat perpustakaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon kerjasama dengan LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon menyelenggarakan kegiatan Small Talk (Ngobrol Santai Tentang Penulisan dan penerbitan Buku) tema “Nerbitin Buku”di Ruang Panggung Literasi Pusat Perpustakaan IAIN Cirebon. Selasa, 05 Maret 2019.
Hadir Sebagai narasumber Bapak Anang Sholihin Wardan (Head of Planning Departemen) dari penerbit Rosdakarya-Bandung didamping Bapak Budi Manfaat (LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon). Acara tersebut dimulai pada pukul 13.30 sd 15.00 WIB dan dibuka langsung oleh Kepala Pusat Perpustakaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon Bapak H.Didid Nurul Rosyidin,MA.,Ph.D.

Tujuan Kegiatan ini adalah untuk mengajak para dosen yang suka menulis dan mau diterbitkan di penerbit, khususnya di Penerbit Rosdakarya.Kurang lebih 30 peserta dari kalangan dosen IAIN mengikuti kegiatan ini dan mereka antusias mendengarkan paparan dari narasumber. Sebelum acara di tutup diadakan dialog/ tanya jawab oleh para peserta dan Acara ditutup pada pukul 15.20 WIB.

Mudah-mudahan kegatan ini bermanfaat dan mendorong para dosen untuk menulis dan mau diterbitkan.

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/small-talknerbitin-buku-panggung-literasi-pusat-perpustakaan-snj-cirebon/

Feb 20

GenBI adakan Karimi di Pusat Perpustakaan IAIN SNJ Cirebon

116a8d81-af52-4e01-826b-cd9abc8a25e0Pusat Perpustakaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon bekerjasama dengan Generasi BI (GenBI) menggelar kegiatan Kajian Ringan Mingguan (Karimi) dengan tema ” Mengenal Lebih Dekat Bank Indonesia di Ruang Panggung Literasi Pusat Perpustakaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan BI Corner. Rabu, 20 Februari 2019. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin dan perdana di panggung literasi pusat Perpustakaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon  tahun 2019 salah satunya oleh GenBI. Acara ini mulai pada pukul 09.00 dan dibuka langsung oleh Kepala Pusat Perpustakaan H. Didin Nurul Rosidin,MA.,Ph.D, dalam sambutanya beliau mengatakan bahwasanya perpustakaan sebagai jantungnya perguruan tinggi sangat mendukung dan menyambut baik acara-acara seperti ini. (more…)

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/genbi-adakan-karimi-di-pusat-perpustakaan-iain-snj-cirebon/

Feb 13

Mengenal Sejarah Awal Mula Tari Topeng Cirebon

Tari-Topeng-Cirebon-780x405CIREBON- Sejarah awal topeng Cirebon sekitar abad 15, digunakan oleh para wali sebagai media dakwah pengenalan agama islam di Cirebon. Perkembangan topeng sendiri tercatat sudah diaplikasikan jauh sebelum Cirebon berdiri, seperti pada zaman Kerajaan Majapahit.

Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati merupakan sosok dibalik berkembangnya tari topeng Cirebon, memadukan instrumen musik berupa gamelan yang terdiri dari bonang, gong, saron, suling, kecrek, ketuk, kenong, penerus, dan dimainkan oleh nayaga (pemusik gamelan). Baca selengkapnya

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/mengenal-sejarah-awal-mula-tari-topeng-cirebon/

Page 1 of 5
1 2 3 5

Older posts «