Tohirin

Author's details

Date registered: July 21, 2016

Latest posts

  1. Madrasah Ruhaniyah Ramadhan (1); Luruskan Niat !‎ — May 6, 2019
  2. Jadilah Makhluk Terpuji — May 5, 2019
  3. Nothing to Lose — May 3, 2019
  4. Life is too Short — May 2, 2019
  5. Menundukkan Nafsu Hayawani — May 1, 2019

Author's posts listings

May 06

Madrasah Ruhaniyah Ramadhan (1); Luruskan Niat !‎

Oleh : Didi Junaedi

didi25

Didi Junaedi

Alhamdullillah syukur tak terperi sudah selayaknya kita haturkan ke ‎hadirat Allah Swt. Atas perkenan-Nya, tahun ini kita kembali dipertemukan ‎oleh Allah dengan bulan suci nan mulia, yakni Bulan Ramadhan.‎

Memulai hari pertama di bulan suci ini, yang perlu kita perhatikan ‎adalah niat. Ya, niat adalah pijakan awal sebelum melangkah lebih jauh. Jika ‎niat kita benar, maka langkah selanjutnya akan terasa ringan dan mudah, dan ‎hasilnya pun maksimal.

Sebalik keadaan, jika niat kita salah, maka langkah ‎selanjutnya akan terasa berat dan sulit, dan hasilnya pun sia-sia.‎Al-Qur’an menegaskan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali ‎supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya ‎dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah : 5).‎

Nabi Saw mengingatkan dalam sabdanya, “Sesungguhnya amal itu ‎tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa ‎yang diniatkan.” (HR. Bukhari)‎

Dua landasan teologis di atas secara tegas menyatakan betapa ‎pentingnya niat. Tanpa niat yang lurus dan tulus, yang dalam bahasa agama ‎disebut ikhlas, maka sia-sialah pekerjaan yang kita lakukan.‎

Bisa jadi amal atau ibadah yang seseorang lakukan tampak begitu ‎khusyu’ penuh khidmat. Tetapi, jika niatnya tidak lurus dan tulus, maka amal ‎serta ibadah yang dilakukan ibarat jasad tanpa ruh, raga tanpa nyawa, alias ‎sia-sia belaka.‎

So, mengawali pelakasanaan ibadah puasa di hari pertama bulan suci ‎Ramadhan ini, juga ibadah-ibadah lainnya yang akan kita lakukan, seperti ‎qiyamul lail, tadarrus al-Qur’an, sedekah, dan sebagainya, marilah mula-mula ‎kita menata niat, luruskan dan tuluskan pengharapan hanya kepada Allah ‎semata, bukan yang lainnya.‎

Usah pedulikan sanjung puji di kanan kiri. Biarlah amal serta ibadah ‎yang kita lakukan menjadi rahasia antara kita dan Allah. Tak perlu kita umbar, ‎pamerkan atau bahkan sebar luaskan kepada khalayak. Yakinlah bahwa ‎seluruh amal dan ibadah kita tersimpan rapi dalam catatan Ilahi.‎

Kita berharap, kelak ketika tiba saatnya kita ditunjukkan hasil dari ‎amal serta ibadah yang kita lakukan, kita akan tersenyum bangga, karena ‎Allah Swt. rida atas apa yang kita lakukan ketika di dunia.‎

Semoga kita bisa terus menjaga niat agar tetap lurus dan tulus hanya ‎berharap rida-Nya semata.‎

——————————————————————
* Ruang Inspirasi, Menjelang Subuh, Senin, 6 Mei 2019/didi251 Ramadan 1440 H.

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/madrasah-ruhaniyah-ramadhan-1-luruskan-niat-%e2%80%8e/

May 05

Jadilah Makhluk Terpuji

Oleh : Didi Junaedi

didi17

Didi Junaedi

‎“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”‎

‎— Nabi Muhammad Saw —‎

Pesan Nabi Muhammad Saw. tersebut menunjukkan betapa pentingnya ‎akhlak mulia. Ya, akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) atau sering disebut juga ‎dengan akhlak terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) adalah ciri pribadi mulia. ‎

Seseorang yang memiliki akhlak mulia akan dihormati dan dihargai ‎oleh orang lain, juga dicintai dan disayangi Allah Swt. Sebaliknya, seseorang ‎yang memiliki akhlak yang buruk dan tercela (al-akhlaq al-madzmumah) tidak ‎akan dihormati dan dihargai oleh orang lain, bahkan mungkin akan dihindari ‎orang lain, karena mereka khawatir terhadap keburukan yang akan menimpa ‎mereka ketika bergaul dengan orang yang berakhlak buruk tersebut. Dia juga ‎akan dibenci oleh Allah karena perilaku buruknya.‎

Akhlak mulia adalah ciri khas para nabi dan rasul, juga orang-orang ‎saleh. Mereka mulia di mata manusia karena budi pekertinya yang luhur, ‎sikapnya yang santun, ucapannya yang menyejukkan, dan pribadinya yang ‎ramah. Mereka juga mulia di hadapan Allah karena sikapnya yang lemah ‎lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Allah yang memiliki sifat ‎Rahman dan Rahim sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang berakhlak ‎dengan sifat-sifat-Nya. ‎

Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad Saw. pernah menyatakan, ‎‎“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ‎gangguan (kejahatan) lisan dan tangannya”. (HR. Bukhari)‎

Hadis ini menunjukkan bahwa di antara akhlak terpuji adalah ‎menjadikan orang lain nyaman dan tenang ketika berada di sisi kita. Mereka ‎tidak khawatir akan tersakiti hatinya atau tersinggung perasaannya karena ‎ucapan kita. Mereka juga tidak takut dengan perlakuan buruk yang mungkin ‎akan menimpa mereka karena tindakan dan sikap kita. Mereka menikmati ‎kebersamaan dengan kita. ‎

Orang-orang dengan akhlak terpuji akan memiliki banyak saudara, ‎teman, dan sahabat. Kehadirannya selalu memberi kesejukan. Keberadaannya ‎selalu menghadirkan kedamaian. ‎

Orang-orang yang memiliki akhlak terpuji, tidak hanya bersikap baik ‎kepada sesama manusia. Bahkan kepada binatang, tumbuhan, serta makhluk-‎makhluk Allah yang lainnya pun dia bersikap baik. Dia berusaha menjadi ‎rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dia akan bersikap ramah ‎terhadap lingkungan. Karena dia sadar sepenuhnya, bahwa ketika dia bersikap ‎ramah kepada lingkungan, berlaku baik kepada alam, maka alam pun akan ‎bersahabat dengannya. Sebaliknya, ketika seseorang abai terhadap ‎lingkungan sekitar, bahkan cenderung merusak, maka alam pun enggan ‎bersahabat dengannya, tidak menutup kemungkinan alam akan murka ‎kepadanya.‎

Mari kita perhatikan apa yang terjadi di tengah-tengah kita. Ketika ‎manusia tidak peduli dengan lingkungan, abai dengan kelestarian alam, alam ‎akan melakukan hal yang sama. ‎

Ketika manusia tidak menjaga kebersihan, misalnya, dengan ‎membuang sampah sembarangan, alam mengirimkan banjir. Ketika manusia ‎merusak hutan, alam menghadirkan longsor. Ketika manusia, karena tuntutan ‎gaya hidup membangun rumah kaca, maka alam merespon dengan semakin ‎menipisnya lapisan ozon. Ketika manusia dengan keserakahannya melakukan ‎pengeboran sejumlah tempat yang diduga terdapat sumber minyak dan gas ‎bumi, untuk kepentingan segelintir orang, alam mengirimkan lumpur panas, ‎seperti yang terjadi di Sidoarjo,  Jawa Timur. Dan masih banyak lagi kejadian-‎kejadian di muka bumi ini yang merupakan efek buruk dari perilaku manusia ‎yang tidak terpuji.‎

Mari kita amalkan pesan Rasulullah Saw., “Sebaik-baik manusia adalah ‎yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad)‎

Pesan Rasulullah tersebut bisa dimaknai secara luas. Manusia terbaik ‎adalah mereka yang kehadirannya memberi manfaat bagi lingkungan di ‎sekitarnya. Manusia mulia adalah mereka yang selalu menghadirkan kebaikan, ‎memberi kedamain, menebarkan ketenangan kepada lingkungan di sekitar ‎tempat tinggalnya, bahkan lebih luas lagi. ‎

So, jadilah makhluk terpuji! ‎

———————————————————–

* Ruang Inspirasi, Ahad, 5 April 2019

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/jadilah-makhluk-terpuji/

May 03

Nothing to Lose

Oleh : Didi Junaedi

Didi Junaedi

“Tak hidup karena puji, tak mati karena caci” . (Siti Nurhaliza)

Petikan kalimat singkat itu saya dengar langsung dari mulut sang pelantun “Purnama Merindu”, Siti Nurhaliza, ketika diwawancarai salah satu televisi swasta di negeri ini.

Sepintas, kalimat tersebut terdengar biasa saja. Tetapi, jika kita cermati dan hayati lebih dalam, makna yang terkandung di dalamnya sungguh luar biasa.

Ya, betapa banyak di antara kita, bahkan mungkin diri kita sendiri yang selalu berharap pujian dari orang lain, ketika melakukan sesuatu, entah pekerjaan, yang memang merupakan tanggung jawab kita, atau bahkan ibadah yang merupakan kewajiban utama kita.

Seringkali kita begitu semangat bekerja dan beribadah ketika orang lain memuji, memuja dan menyanjung kita. Tetapi langsung tak bergairah dan malas-malasan ketika tak ada seorang pun yang memperhatikan aktivitas pekerjaan dan ibadah kita. Bahkan, kita berbalik menjadi orang yang sangat rendah kualitas pekerjaan serta aktivitas ibadahnya ketika ada yang mengkritik kita.

Inilah kenyataan yang sering kita jumpai dan mungkin kita alami sendiri. Semangat membuncah saat dipuji. Tetapi langsung tak bergairah saat diabaikan atau dicaci.

Agama mengajarkan kepada kita sikap tulus, ikhlas dalam beramal. Hanya berharap rida Tuhan bukan yang lainnya. Karena hanya dengan mengharap rida-Nya, kita akan tenang dan nyaman dalam beraktivitas. Baik dalam pekerjaan sehari-hari, lebih-lebih dalam beribadah.

Tepat sekali apa yang pernah diungkapkan oleh Sang Gerbang Pengetahuan (Pintu Kota Ilmu), Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah: “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”

Dalam ungkapan lain, Imam Al-Syafii rahimahullah menyebutkan, “Ridla al-Naas ghayatun la tudrak.” Berharap semua orang rida kepada kita adalah sebuah utopia (tujuan yang tak mungkin dicapai)”.

Benderang sudah bahwa satu-satunya harapan yang harus terus kita tanamkan dalam diri adalah rida Tuhan. Usah pedulikan pendapat dan komentar orang.

Nothing to lose. Life must go on. Dipuji atau dicaci, selagi kita berjalan di jalan yang benar, teruslah berjalan.

Mubazir membuang energi, pikiran dan perasaan untuk hal-hal remeh temeh yang hanya akan merusak hidup kita. Terlalu banyak hal penting yang harus kita lakukan untuk berkhidmat kepada sesama dan mengabdi kepada Tuhan.

Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Anggap saja angin lalu, suara-suara sumbang itu.

Belajarlah kepada sikap para Nabi dan Rasul terdahulu. Jika mereka pedulikan caci-maki kaumnya, mungkin mereka akan segera pensiun dini jadi Nabi dan Rasul. Tetapi mereka tetap teguh menyampaikan risalah Ilahi, karena harapan satu-satunya yang tersemat dalam diri adalah rida Tuhan. Mereka tetap bertahan hingga kesuksesan mereka dapatkan.

Jalan kesuksesan memang tidak datar, melainkan terjal dan berliku. Di kanan kiri bertabur onak dan duri. Tetapi jika kita jalani penuh percaya diri dengan terus menautkan hati pada Ilahi, maka kesuksesan hanyalah soal waktu.

So, sekali lagi saya ingin mengulang ungkapan indah penuh daya gugah dari artis negeri Jiran yang memiliki suara emas itu, ” Tak hidup karena puji, tak mati karena caci.”

——————————————–
* Ruang Inspirasi, Jumat, 3 Mei 2019

 

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/nothing-to-lose/

May 02

Life is too Short

Oleh : Didi Junaedi

didi20

Didi Junaedi

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Q.S Al-Hasyr 18)

Hidup ini sangat singkat. Waktu bergerak begitu cepat. Setiap saat, selalu saja ada yang hadir dan mangkat. Setiap waktu, ada yang datang dan berlalu. Ya, inilah hidup. Tak ada yang abadi. Ada kelahiran ada kematian. Ada keriangan ada kesedihan. Ada tawa bahagia ada tangis derita. Ada harapan ada kekecewaan.

Adalah sunnatullah belaka semua yang kita jalani, alami dan rasakan. Adalah skenario Tuhan semua yang berlaku dalam hidup ini. Tugas utama kita adalah menjalani hidup dan kehidupan dengan tetap mengindahkan aturan Tuhan, melakukan yang terbaik, berikhtiar maksimal, disertai untaian doa yang tak kenal henti kepada Sang Maha Pemberi, serta kepasrahan total kepada-Nya.

Hidup ini sangat singkat. Ajal kita begitu dekat. Setiap saat, Izrail siap memutus nikmat hidup tanpa perlu mengirim pesan singkat kepada si calon mayat. Ketika tiba saat yang tepat untuk kita kembali ke hadirat Ilahi, tak ada interupsi yang mampu menghentikan meski beberapa detik saja. Jika sudah waktunya mangkat, tak bisa ditunda walau sesaat. Siap tidak siap kita harus segera berangkat.

Life is too short. Ya, hidup ini sangat singkat. Sudahkah kita bergiat untuk menyiapkan bekal terbaik yang akan kita bawa menempuh perjalanan panjang yang entah sampai kapan itu?

Ayat yang penulis kutip di awal tulisan ini hendaknya menggugah kesadaran kita, bahwa selain hidup di dunia fana yang singkat ini, ada kehidupan yang abadi di akhirat nanti. Dan agar kehidupan di sana nanti diliputi kebahagiaan, ada bekal yang harus dipersiapkan.

Jika ketika hidup di dunia yang sangat singkat ini saja kita menyiapkan bekal masa depan, bekerja sepenuh tenaga mengumpulkan pundi-pundi materi, menumpuk investasi, agar kelak kita bisa menikmati hidup penuh ketenangan dan kebahagiaan, apatah lagi untuk hidup abadi di akhirat nanti. Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk kehidupan di sana?

Jawaban atas pertanyaan ini kembali kepada diri kita masing-masing. Akankah kita terus terbuai dan terlena dengan kehidupan dunia, hingga melupakan masa depan hidup kita di akhirat sana? Ataukah kita sadar sepenuhnya bahwa hidup di dunia ini hanya sementara saja, sehingga kita mempersiapkan bekal terbaik untuk kita bawa ke kehidupan abadi di akhirat nanti?

Mari kita renungkan bersama.

——————————————-
* Ruang Inspirasi, Kamis, 2 Mei 2019

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/life-is-too-short/

May 01

Menundukkan Nafsu Hayawani

Oleh : Didi Junaedi

didi 6Kondisi masyarakat saat ini dapat dikatakan sebagaimasyarakat permisif, masyarakat serba boleh. Munculnya individu-individu yang arogan, amoral, anarkis, intoleran, baik di tingkat elite maupun grass root, merupakan dampak riil dari masyarakat serba boleh ini. Belum lagi tingginya tingkat kriminalitas, pergaulan bebas yang menjurus pada perilaku seks bebas (free sex) di kalangan remaja, merebaknya virus HIV yang mematikan disertai meningkatnya penderita AIDS, dan sederet persoalan sosial lainnya siap menghadang komunitas masyarakat yang mengedepankan nafsu semata tanpa mengindahkan norma-norma yang berlaku.

Setiap hari manusia semakin terseret ke arah pengasingan (alienasi), tidak ada lagi waktu untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, keluhuran moral, dan kepekaan ruhaniah, bahkan makhluk ini justru tenggelam dalam gemerlapnya kehidupan sehingga kerap memicu terjadinya penyelewengan-penyelewengan dan pemerosotan nilai-nilai tradisional.

Pertanyaannya kemudian, bagaimanakah kita (umat Islam) menyikapi kondisi yang sudah sedemikian memprihatinkan ini, langkah apa saja yang seharusnya kita ambil untuk dapat keluar dari krisis kemanusiaan ini?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, ada baiknya kita merenungkan penjelasan Husain Mazhahiri yang tertuang dalam bukunya berjudul ‘Awāmil as-Saytharah ‘alāal-Gharāiz fi Hayat al-Insān.

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa secara eksistensial, manusia terdiri dari dua dimensi. Dua dimensi yang inheren dalam diri manusia tersebut adalah dimensi ruhy dan jismy. Dalam dimensi ruhy terdapat beberapa komponen, antara lain: akal, nurani, hati, dan sebagainya. Dimensi ini disebut juga sebagai dimensimalakuti (kemalaikatan).

Sementara dalam dimensi jismy terdapat beberapa komponen yang, hampir sama dengan yang terdapat pada binatang, seperti insting (naluri), nafsu, dan sebagainya. Oleh karena itu, dimensi ini disebut juga sebagai dimensi hayawani.

Al-Qur’ān memberikan petunjuk agar manusia tidak terlena dalam pelukan nafsu duniawi yang merupakan perwujudan dari dimensi hayawani. Allah Swt. mengingatkan,“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (Q.S. an-Nisa/4: 77)

Ironisnya, sebagian besar dari umat manusia justru dipengaruhi dan dikuasai oleh nafsu. Mereka menjadikan nafsu sebagai tuhan (ilah) dalam kehidupan ini. Padahal dalam ayat lain, Allah SWT secara tegas mengecam para ‘budak nafsu’, yaitu mereka yang menuhankan hawa nafsunya.

Dalam al-Qur’ān, Allah menyindir mereka yang menuhankan hawa nafsunya ibarat binatang ternak, bahkan lebih rendah dari itu, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu. (Q., s. al-Furqān/ 25:44)

Untuk itu, agar kita semua tidak dicap sebagai penghamba nafsu, maka kita harus kembali kepada al-Qur’ān sebagai pedoman hidup kita. Dalam salah satu ayat al-Qur’ān Allah SWT menegaskan, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nya dengan bersujud. (Q., s. al-Hijr/15:29)

Dari keterangan ayat di atas jelaslah bagi kita bahwa setelahruh ditiupkan kepada kita, selanjutnya kita diperintahkan untuk bersujud, yakni beribadah dengan sepenuh hati secara ikhlas kepada Allah. Dengan melakukan pengabdian secara total kepada Allah, niscaya dimensi lain berupa nafsuhayawani yang ada dalam diri manusia dapat ditundukkan.

——————————————————————————–
* Perjalanan dari Ciputat menuju Stasiun Gambir, Rabu, 1 Mei 2019.

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/menundukkan-nafsu-hayawani/

Apr 30

Ketika Kita Telah Tiada

Oleh : Didi Junaedi

didi21

Didi Junaedi

Sesekali, cobalah kita mengambil jeda dari rutinitas hidup yang melelahkan ini, untuk berbicara dengan nurani kita. Ajukanlah beberapa pertanyaan mendasar tentang keberadaan kita saat ini, kemudian merenungkan apa yang terjadi setelah kita tiada nanti.

Jika keberadaan kita saat ini diakui oleh orang lain karena harta yang kita miliki, ilmu yang kita punyai, kedudukan dan jabatan yang kita pegang, serta popularitas yang kita sandang, akankah itu semua akan tetap bertahan hingga saat kita telah tiada nanti?

Pertanyaan selanjutnya kemudian, apakah semua hal itu; harta, ilmu, kedudukan dan jabatan, serta popularitas yang kita nikmati dan banggakan di dunia akan menghadirkan manfaat untuk kita setelah ketiadaaan kita nanti?

Sejumlah pertanyaan di atas penting kita ajukan kepada diri kita masing-masing, sebagai bahan renungan, agar kita menyadari hakekat keberadaan kita saat ini, serta mempersiapkan ketiadaan kita nanti.

Pengalaman hidup menunjukkan bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Limpahan materi yang dimiliki seseorang, yang karenanya ia dihargai keberadaanya oleh orang lain, segera tak berarti apa-apa ketika sang pemilik itu dipanggil Sang Mahakuasa. Seluruh harta akan ditinggalkannya. Pakaian bermerek yang biasa dikenakan akan berganti beberapa helai kain kafan. Mobil mewah yang biasa dia kendarai mengantarnya ke sana kemari, segera berganti keranda yang ditandu manusia. Dia pun kini tinggal nama.

Sederet gelar akademis yang selalu tersemat di depan dan di belakang nama seseorang, tak bisa menjadikannya abadi, ketika ajal sudah menghampiri.

Kedudukan dan jabatan yang disandang seseorang, yang dulu dibangga-banggakan, segera akan beralih ke orang lain, ketika dia sudah dipanggal ke haribaan Sang Pencipta.

Pun demikian halnya dengan popularitas menjulang yang melambungkan nama seseorang, hanya tinggal kenangan, ketika si pemiliknya telah tiada.

Lantas, apa yang akan menjadikan seseorang abadi, meski tubuhnya sudah berada di perut bumi? Apa yang membuat namanya tetap semerbak sepanjang masa, meski jasadnya sudah berkalang tanah?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau menyatakan, “Jika seseorang telah meninggal dunia, maka tiga hal yang tak akan putus (nilainya di sisi Allah); sedekah yang mengalir (pahalanya), ilmu yang menghadirkan manfaat, serta keturunan (anak-cucu/generasi penerus) yang salih-salihah yang mendoakannya.”

Dari keterangan Nabi Saw. tersebut dapat dipahami, bahwa ketika kita telah tiada nanti, hanya amal salih; harta yang kita belanjakan di Jalan Tuhan, ilmu yang kita dermakan kepada sesama, serta keturunan yang salih-salihah yang akan mengabadikan nama kita, dan terus mengalirkan pahala ke rekening akhirat kita.

Semoga kita mampu menjaga nama baik kita, agar tetap harum mewangi, meski sudah meninggalkan dunia ini, dengan amal salih yang kita lakukan.

—————————————————————————–
* Refleksi Diri, Selasa, 30 April 2019. Di sudut kamar kos, Ciputat.

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/ketika-kita-telah-tiada/

Apr 29

Life is a Journey

Oleh : Didi Junaedi

Didi Junaedi

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang. Layaknya sebuah perjalanan, ianya meniscayakan bekal dan kesiapan mental. Tanpa keduanya, perjalanan akan terasa berat, melelahkan, bahkan tidak menutup kemungkinan menghadirkan keputusasaan yang berujung pada penderitaan berkepanjangan.

Manusia hakekatnya adalah musafir, pelancong kehidupan. Ada banyak ruang, waktu, tempat dan persinggahan yang akan dilalui. Dalam setiap ruang, waktu, tempat serta persinggahan yang dilalui akan diliputi sejumlah peristiwa, kejadian, serta pengalaman.

Ada peristiwa yang menghadirkan tawa bahagia. Ada kejadian yang menyisakan duka lara. Ada pengalaman yang mengguratkan sejumput hikmah.

Setiap manusia menempuh caranya sendiri dalam menghadapi peristiwa, menyikapi kejadian, serta memaknai pengalaman yang ia rasakan.

Ada yang menganggap peristiwa yang dialami sebagai hal biasa dan wajar saja dalam sebuah perjalanan kehidupan. Ada yang menyikapi kejadian dengan penuh melibatkan perasaan, hingga seringkali tidak bisa segera move on dari kejadian yang dialaminya. Ada yang dengan penuh sikap bijak,  memaknai setiap pengalaman hidup yang dialami dan di rasakannya sebagai sebuah pelajaran berharga yang dianugerahkan Tuhan, untuk menjadikannya manusia-manusia arif.

Ya, sekali lagi, hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh warna. Bahagia-derita, suka-duka, akan selalu hadir silih berganti, datang dan pergi.

Agama mengajarkan umatnya untuk mempersiapkan bekal, menguatkan mental dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini.

Hanya mereka yang siap bekal dan siap mental akan mendapat kebahagiaan hidup.

Sebagai umat beragama, maka bekal terbaik yang harus kita persiapkan adalah ketakwaan kepada Tuhan, yaitu menaati titah dan seruan-Nya, serta menjauhi dan menghindari larangan-Nya. Cara untuk mampu melakukan dua hal ini adalah dengan terus menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah, bahkan setiap desahan nafas kita.

Adapun sikap mental yang harus dipersiapkan untuk menghadapi perjalanan panjang kehidupan ini adalah, ikhtiar maksimal untuk setiap impian dan cita-cita, serta kepasrahan total (tawakkal) kepada Tuhan, dengan keikhlasan menerima apa pun kehendak Tuhan.

Jika dua hal tersebut, yaitu bekal dan kesiapan mental kita miliki, maka perjalanan panjang kehidupan ini akan terasa ringan dan menyenangkan.

Sekali lagi, Life is a Journey. Hidup adalah sebuah perjalanan.

————————————————————————-

* Kamar Kos Ciputat, Senin, 29 April 2019

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/life-is-a-journey/

Apr 28

Syukuri Apa yang Ada

Oleh: Didi Junaedi

didi2

Didi Junaedi

Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan Kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar dan tak kenal putus asa…
(d’Masiv)

Rangkaian syair lagu di atas, yang dipopulerkan oleh Grup Band d’Masiv sengaja penulis kutip dalam uraian kali ini. Kalau kita cermati dan hayati bait demi bait syair lagu tersebut, akan kita temukan sebuah kesadaran atas kondisi ril manusia pada umumnya.

Tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang terlahir sempurna. Karena memang kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata. Setiap manusia yang lahir ke muka bumi selalu membawa dua hal yang alih-alih dipertentangkan, tetapi justru saling melengkapi, yakni kelebihan dan kekurangan.

Mengapa harus ada kelebihan dan kekurangan? Apa hikmah yang terkandung di dalamnya?

Dalam tinjauan agama, kelebihan dan kekurangan yang menyertai setiap manusia adalah sebuah anugerah sekaligus ujian. Sesuai dengan sunnatullah, Allah SWT selalu menciptakan sesuatu berpasangan untuk saling melengkapi. Ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada bumi ada langit, ada kemarau ada hujan, ada kaya ada miskin, ada suka ada duka, ada anugerah ada musibah, dan tentunya ada kelebihan ada kekurangan.

Kalau kita telusuri teks-teks keagamaan, akan kita jumpai hikmah diciptakannya manusia lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Anugerah berupa kelebihan yang Allah SWT berikan kepada setiap manusia bertujuan agar mereka bersyukur.

Ya, syukur atas nikmat Allah, salah satunya terhadap kelebihan yang diberikan oleh-Nya, akan menjadikan manusia tawadhu, rendah hati di hadapan-Nya. Janji Allah sudah jelas, bahwa jika hamba-Nya mau bersyukur atas nikmat-Nya, Allah akan menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, jika hamba-Nya kufur atau ingkar atas nikmat-Nya, Allah akan mengubah nikmat tersebut menjadi sebuah bencana dan malapetaka. Dengan demikian, anugerah berupa kelebihan bukan untuk disombongkan, atau menjadi sarana membanggakan diri dan merasa di atas orang lain. Karena ini bisa menjadi bumerang bagi pemiliknya.

Adapun kekurangan, baik yang menyangkut kondisi fisik ataupun keadaan; sosial, ekonomi seseorang pada hakekatnya adalah sarana agar ia bersabar atas kehendak-Nya. Kekurangan bukan untuk diratapi, kemudian menjadikan seseorang rendah diri atau minder, tetapi justru untuk melatih seseorang untuk memperbaiki diri. Seseorang yang menyadari kekurangannya, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membenahinya, yaitu dengan cara menggali potensi dirinya, serta memaksimalkan kelebihannya, sehingga kekurangannya tertutupi.

Dengan demikian, syukur atas anugerah berupa kelebihan serta sabar atas kekurangan yang dimiliki, akan menjadi sarana efektif bagi seseorang untuk mampu menunjukkan eksistensi dirinya yang sesungguhnya. Kelebihan dan kekurang adalah sunnatullah. Anugerah, nikmat, atau pun musibah dan ujian akan menimpa siapa saja yang Allah kehendaki. Tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri karena kelebihan yang kita miliki. Karena pada hakekatnya, semua itu milik Allah. Pun sebaliknya, tidak ada dalih bagi kita untuk merasa rendah diri atau minder karena kekurangan yang kita miliki. Karena tidaklah Allah menciptakan sesuatu itu sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya. Maka, syukuri apa yang ada..Hidup adalah anugerah…Terus memperbaiki diri, jangan pernah putus asa!

———————————————–
* Ruang Inspirasi, Ahad, 28 April 2019

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/syukuri-apa-yang-ada/

Apr 26

Komunikasi yang Baik, Menepis Syak Wasangka

Oleh : Didi Junaedi

didi3

Didi Junaedi

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari)

Tidak jarang perselisihan, saling curiga, syak wasangka antarsesama, antara seorang anak dengan orang tuanya, suami dengan istrinya, saudara dengan saudaranya muncul disebabkan bukan oleh hal-hal besar, tetapi hanya karena masalah komunikasi yang tidak terjalin dengan baik, atau bahkan terputus, sehingga terjadi miskomunikasi yang berujung pada kesalahpahaman antara satu dengan lainnya.

Ya, masalah komunikasi antarsesama ini sangat penting dan sangat menentukan kualitas hubungan serta harmoni antarsesama. Orang tua yang mampu menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anaknya, akan mampu menciptakan harmoni dalam keluarga. Sepasang suami istri yang mampu menciptakan komunikasi dua arah yang baik, saling terbuka, jujur, tidak ada yang ditutup-tutupi, menjadikan hubungan keduanya terjalin erat, saling percaya, tak ada curiga dan syak wasangka.

Membangun komunikasi yang baik antarsesama dan tetap menjaganya sepanjang masa adalah suatu yang niscaya. Sekali komunikasi itu terhambat, apalagi terputus, maka mulailah muncul benih-benih kecurigaan, ketidaknyamanan, bahkan bisa mengakibatkan hilangnya kepercayaan.

Memang, dalam sebuah hubungan tidak mungkin berjalan mulus tanpa hambatan, selalu saja ada rintangan dan ujian yang datang menghadang. Tetapi, semua rintangan dan ujian itu akan bisa dilewati dengan baik, jika komunikasi antarsesama terjalin dengan baik.

Cara yang paling efektif untuk membangun komunikasi, agar tetap terjaga dan terjalin dengan baik adalah dengan menghargai antarsesama, dan memperhatikan perasaan masing-masing.

Penghargaan serta perhatian kepada perasaan setiap orang adalah mutlak adanya. Belajarlah menghargai perasaan orang lain, sebagaimana kita juga ingin dihargai perasaannya. Hadirkan rasa percaya kepada sesama, antara anak dan orang tua, istri dan suami, saudara dan saudara, juga tetangga dan tetangga. Jangan pernah mengabaikan masalah perasaan ini. Karena sekali perasaan tersakiti, seumur hidup akan terus diingat, meski bibir sudah mengucap kata maaf.

So, mulai saat ini, mari kita jaga komunikasi dengan baik antarsesama agar menepis segala syak wasangka. Komunikasi antara anak dan orang tua, istri dan suami, saudara dan saudara, tetangga dan tetangga.

Hanya dengan cara seperti ini, kita akan terhindar dari perselisihan, rasa saling curiga, serta menumbuhkan saling percaya.

————————————————————-
* Ruang Inspirasi, Sabtu, 27 April 2019

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/komunikasi-yang-baik-menepis-syak-wasangka/

Apr 26

Dakwah Literasi di Media Sosial

Oleh : Didi Junaedi

didi5

Didi Junaedi

“Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu adalah Yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125).

Saat ini, kita benar-benar dimanjakan oleh media sosial (medsos), yang hadir sebagai imbas dari perkembangan teknologi informasi, khususnya internet. Betapa tidak,  melalui medsos, begitu mudahnya kita mendapatkan informasi yang melimpah ruah tentang segala hal, yang datang dari antah berantah.  Berita yang ada dari seluruh penjuru dunia, melalui dunia maya (dumay) jauh lebih cepat tersebar dan tersiar daripada yang kita jumpai di dunia nyata.

Sejumlah jejaring media sosial seperti facebook (Fb), twitter, WhatsApp (WA), atau Instagram (IG), menjadi sarana yang paling mudah dan murah bagi para netizen (masyarakat di dunia maya) untuk mendapatkan atau menyampaikan informasi secara luas.

Demikian mudahnya mendapatkan informasi di jagat maya melalui jejaring media sosial tersebut, hingga tidak jarang, informasi yang didapatkan itu, yang sudah terlanjur menyebar luas, tidak jelas sumber dan kebenarannya. Dalam istilah dunia maya, berita-berita yang tidak jelas sumber serta nilai kebenarannya sering disebut dengan ‘hoax’.

Ironisnya, berita-berita dengan status ‘hoax’ tersebut menyebar begitu cepat. Dan anehnya, berita ‘hoax’ tersebut mudah dipercaya oleh para netizen, tanpa melalui proses cek dan ricek (tabayyun) terlebih dahulu.

Di antara ciri berita yang termasuk dalam kategori ‘hoax’ itu adalah bahwa berita tersebut berisi : fitnah, hasutan, ujaran kebencian (hate speech), caci maki, dan penuh dengan nada provokatif. Biasanya, berita tersebut diembuskan oleh salah satu pihak di antara dua pihak yang tengah berseteru untuk semakin memanaskan suasana. Bisa juga, berita tersebut, yang tidak jelas sumbernya, berasal dari pihak ketiga yang menginginkan perpecahan antarumat beragama, antarorganisiasi, antaretnik, atau bahkan dalam skala yang lebih besar antarbangsa.

Menyikapi kondisi yang memprihatinkan ini, hemat penulis, ada satu peran yang harus kita ambil, agar medsos menjadi sarana yang positif untuk mendapatkan ilmu, pengetahuan serta pengalaman yang menghadirkan manfaat untuk semua. Peran yang saya maksud adalah dakwah. Lebih khusus lagi adalah dakwah literasi.

Ya, dakwah literasi melalui media sosial, menjadi cara yang tepat sekaligus efektif untuk menghadirkan manfaat bagi para netizen, sekaligus menangkal virus hoax yang bertebaran di mana-mana.

Jika setiap netizen, warga dunia maya memiliki kesadaran untuk berdakwah melalui media sosial, maka bisa dipastikan kehidupan kita di dunia maya akan terasa bermanfaat, bermakna, sekaligus membahagiakan.

Dakwah literasi di media sosial harus kita kedepankan, jika kita ingin menghadirkan kesejukan dan kenyamanan di jagat maya. Kalau tidak, maka warga dunia maya akan menjadi korban keburukan para penebar hoax

Hemat penulis, dakwah literasi adalah bagian dari jihad bil kitabah atau jihad bil qalam. Efek dari dakwah literasi ini akan sangat dahsyat jika terus menerus kita lakukan secara istikamah.

Upaya untuk menggugah kesadaran warganet agar cerdas dalam memilah dan memilih informasi yang diterima, sehingga ketika hendak dibagikan bisa dipertanggunggjawabkan sumber serta kebenarannya, harus terus menerus dilakukan. Sehingga informas yang disebarkan melalui jejaring media sosial benar-benar menghadirkan manfaat.

Hanya melalui dakwah literasi inilah, kita dapat mencegah bertebarannya virus-virus hoax yang begitu menjamur bak cendawan di musim hujan akhir-akhir ini.

———————————————————————-

* Ruang Pendaftaran Pasien RS. MITRA SIAGA TEGAL, Check Up rutin Ibunda, Jumat, 26 April 2019.

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/dakwah-literasi-di-media-sosial/

Page 1 of 6
1 2 3 6

Older posts «