«

»

Aug 10

Print this Post

Hermeneutika Feminisme dalam Pemikiran Tokoh Islam Kontemporer

17156280_1317239851749284_8128605823422944371_nJudul Buku :Hermenutika Feminisme dalam Pemikiran Tokoh Islam Kontemporer
Pengarang :Irsyadunnas
Penerbit :Calpulis
Tahun Terbit :2017
Tebal Halaman :286 halaman

Sinopsis Buku
Buku ini membahas tentang terobosan baru dalam metode tafsir Al-Qur’an yaitu metode Hermeutika Feminisme. Sebagaimana judulnya metode ini menggabungkan dua pendekatan yakni “Hermeneutika” yang bertumpu pada penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan mempertimbangkan realitas kekinian dan memenuhi metode ilmiah standar dari topik-topik yang dibahas. Sedangkan, yang dimaksud dengan “Feminisme” disini adalah usaha untuk memperjuangkan hak-hak perempuan atau kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Maka metode Hermeneutika Feminisme dapat dipahami sebagai metode penafsiran Al-Qur’an yang mempertimbangkan unsur realitas kekinian dan berusaha memenuhi metode ilmiah standar dari topik yang ditafsirkan yang bertujuan untuk mewujudkan kesetaraan gender dari ayat-ayat yang dianggap menunjukkan bias gender.

Dalam buku ini penulis terutama memfokuskan pembahasannya dengan membandingkan penafsiran Al-Qur’an dengan metode hermenutika feminisme yang digunakan oleh dua tokoh kontemporer yaitu Amini Wadud Muhsin (Wadud) dan Asghar Ali Engineer (Engineer) dengan beberapa mufasir klasik. Wadud merupakan seorang wanita Afrika-Amerika yang telah mengalami diskriminasi gender dalam hidupnya sehingga Wadud sangat mengkritik penafsiran Al-Qur’an yang bias gender. Sedangkan, Engineer adalah seorang laki-laki keturunan India yang merupakan anak dari ulama pemimpin sekte Bohra. Meskipun bukan seorang wanita, Engineer sangat paham dengan otoriterianisme dan dominasi laki-laki terhadap perempuan yang terjadi di India. Hal ini mendorongnya untuk mencetuskan teologi pembebasan yang menafsirkan kembali nilai-nilai ajaran islam untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan.

Dalam penerapan metode Hermeneutika Feminisme, baik Wadud maupun Engineer menggunakan tiga langkah utama dalam menafsirkan ayat-ayat bias gender yakni, analisis asbāb al-nuzūl (asal-usul turunnya ayat), analisis linguistik (bahasa) dan analisis welstanchaung Al-Qur’an (nilai-nilai universal yang terkandung dalam Al-Qur’an). Metode ini juga memiliki ciri khas dalam penafsiran Al-Qur’an yang memungkinkan adanya desakralisasi teks Al-Qur’an, depatriarkhisasi tafsir Al-Qur’an, rehumanisasi perempuan dalam tafsir, dan rekontekstualisasi makna ayat-ayat Al-Qur’an.

Pada buku ini penulis mengutip lima masalah utama yang didekonstruksi penafsirannya oleh Wadud dan Engineer, yang meliputi asal-usul penciptaan perempuan, nushuz, poligini, kesaksian, dan warisan. Penulis memaparkan bagaimana kedua tokoh tersebut menafsirkan kata-kata kunci dari setiap ayat yang bias gender dengan mengaitkannya dengan makna yang lebih luas dari kata-kata tersebut dan ayat-ayat lain yang memunculkan kata-kata kunci yang sama. Penulis selanjutnya membandingkan hasil penafsiran mereka dengan hasil penafsiran dari beberapa mufasir klasik. Hasilnya menunjukkan bahwa penafsiran kebanyakan dari mufasir klasik masih sangat kental dengan unsur partriarkhi yang masih sangat kuat pada saat itu sedangkan penafsiran Wadud dan Engineer lebih bersifat luas, kontekstual. Meskipun demikian, penulis tidak serta merta menyalahkan para mufasir klasik. Penulis menekankan bahwa penafsiran para mufasir klasik merupakan produk dari zamannya yang masih sangat dipengaruhi kondisi sosial budaya pada saat itu dimana pengaruh patriakhi masih sangat dominan.

Penulis juga membandingkan hasil penafsiran Wadud dan Engineer yang tidak selalu sama. Misalnya dalam masalah warisan, Wadud menjunjung tinggi nilai kesetaraan dan keadilan bagi perempuan dan sangat menunjukkan jiwa feminisnya. Setiap ayat harus ditafsirkan secara kontekstual dan perubahan konteks memerlukan perubahan tafsir. Di sisi lain Engineer yang juga memperjuangkan kesetaraan dan keadilan tampak lebih netral dalam penafsirannya dengan tetap mempertimbangkan konteks dan pemaknaan yang lebih luas terhadap ayat. Perbedaan ini tidak terlepas dari perbedaan latar belakang kedua tokoh tersebut, dimana sebagai perempuan yang lekat dengan isu diskriminasi gender Wadud nampak lebih agresif dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.Di akhir buku ini penulis menekankan pentingnya pemahaman bahwa penafsiran Al-Qur’an akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Penafsiran Al-Qur’an harus disesuaikan dengan konteksnya dengan tetap memperhatikan worldview dari Al-Qur’an itu sendiri.

Kelebihan Buku

  • Judul buku ini sangat menarik bagi para pembaca yang tertarik dengan isu-isu gender. Buku ini sangat menginspirasi, terutama karena buku ini menunjukkan bagaimana isu gender dipahami dengan lebih mendalam dan luas dalam kacamata Islam.
  • Cara penulis membandingkan hasil tafsir para mufasir kontemporer dan klasik dan tafsir Wadud dan Engineer mennginspirasi pembaca untuk selalu terbuka terhadap perbedaan dan dapat memahami latar belakang dari perbedaan tersebut dengan bijaksana.

Kekurangan Buku

  • Banyak istilah dalam buku ini yang ditulis dalam bahasa Arab, bagi pembaca awam mungkin akan kesulitan dalam memahami beberapa istilah.
  • Beberapa bagian dalam buku ini yang membahas kasus yang sama ditulis dengan redaksi yang sama sehingga beberapa penjelasan terkesan diulang-ulang.

Demikian resensi tentang buku ini. Menurut pendapat resensator buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca terutama bagi mereka yang tertarik dengan isu-isu gender, wanita, bahasa, dan hermeneutika.

Resensator,

Ttd

Listiana Ikawati

About the author

tohirin

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/?p=2195

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>