«

»

Aug 27

Print this Post

Menulis : Investasi Dunia-Akhirat

Oleh : Didi Junaedi

68759625_10216290420587568_6127459683188867072_nSalah satu aktivitas mulia yang bisa menjadi investasi (bekal) hidup kita di dunia ini dan di akhirat nanti adalah menulis. Mengapa demikian? Mari kita lihat kenyataan sejarah. Sejarah dunia ini digerakkan dan dibentuk oleh manusia-manusia besar, tokoh-tokoh hebat yang pernah hadir di muka bumi ini. Dan di antara para manusia besar dan tokoh hebat tersebut, sebagian besar meninggalkan warisan (baca : investasi) berupa karya monumental yang merekam pemikiran besar serta tindakan hebat mereka.

Dalam khazanah Islam, berderet nama-nama besar yang pernah mengisi panggung sejarah kehidupan umat manusia dengan beragam prestasi membanggakan, khususnya dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sekadar menyebut beberapa nama : ada Al-Kindi, filosof muslim pertama; Al-Ghazali Sang Hujjatul Islam dengan masterpiece-nya Ihya ‘Ulumiddin; Ibn Sina (Avicenna), ahli dalam bidang kedokteran yang menjadi rujukan para sarjana Eropa dan Barat; Ibn Rusyd (Averroes), seorang filosof, dokter, juga faqih, memiliki sejumlah karya dalam kajian filsafat, kedokteran dan fiqih, di antaranya ensiklopedia kedokteran yang diberi judul Kulliyat fi Al-Thibb. Dalam bidang fiqih menulis Bidayatul Mujtahid, sedangkan dalam bidang filsafat menulis banyak buku komentar atas pemikiran aristoteles.

Karya-karya besar para ilmuwan muslim ini pada gilirannya memancarkan cahaya peradaban yang begitu terang di Timur (baca : dunia Islam), dan pada akhirnya menyinari seluruh penjuru dunia, termasuk dunia barat.

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa karya tulis ilmiah berupa buku merupakan investasi dunia, yang dapat mencerahkan perdaban umat manusia. Dalam pengertian yang lebih sempit, makna investasi dunia di sini adalah memberikan keuntungan finansial bagi penulisnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sejarah Islam, bahwa khalifah (Al-Makmun), misalnya, memberikan jasa kepada para penulis dengan menimbang berat buku karya mereka dengan emas. Semakin berat buku yang mereka hasilkan, maka semakin besar pula materi yang didapatnya. Tetapi tentu, dalam hal ini materi bukanlah tujuan utama, tetapi sumbangsih pemikiran demi kemajuan peradaban aadalah yang lebih utama.

Berkaitan dengan aktivitas menulis ini, alangkah mulianya jika niat utama seseorang menulis adalah untuk mengharap ridla Allah. Niat inilah yang mendasari para ulama salafussalih dalam melahirkan karya-karya besarnya, yang kemudian mampu mencerahkan dan mencerdaskan umat.

Inilah ladang amal yang bisa menjadi investasi akhirat kita. Jika buku yang kita tulis itu terbit, kemudian dapat memberi manfaat kepada para pembaca, maka insya Allah pahala dari tulisan kita itu akan terus mengalir kepada kita, meski kita sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sungguh sebuah kenikmatan tak terhingga, jika kita kelak di akhirat mendapatkan passive income berupa pahala dari karya kita di dunia. (@toh).

About the author

tohirin

Permanent link to this article: http://web.syekhnurjati.ac.id/perpustakaan/?p=2181

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>