Soal Kesadaran Literasai Kita (masih) Rendah

Literasi

 

Diakui atau tidak budaya literasi bangsa kita masih rendah. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Sedangkan Finlandia menduduki peringkat pertama dengan tingkat literasi yang tinggi, hampir mencapai 100%.  Walaupun suntikan dana  yang dialokasikan oleh pemerintah pada APBN 2018 cukup fantastis mencapai 144, 13 Triliun pada bidang pendidikan rupanya belum mampu mengerek  tingkat literasi kita.

Literasi adalah keberaksaraan, suatu kemampuan membaca dan menulis. Budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berpikir yang diikuti proses membaca- menulis, yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam proses kegiatan tersebut menciptakan karya.

Padahal entah kita lupa atau memang belum tahu, al-Qur`an yang senantiasa dibaca setiap kali sholat dan di langgar-langgar itu, Iqra! demikianlah ayat yang pertama kali diturunkan Allah SWT. Ada rahasia besar dalam perintah pertama Allah ini. Menurut Pak Quraish Shihab yang menulis Tafsir Al-Misbah,  salah satu rahasianya  ada pada ayat  ketiga,  yaitu  iqra` warabbukal akram, Bacalah! Tuhanmu yang maha mulia (QS. al-`Alaq/96; 03)

Menurut beliau, kata al-Akram  yang berbentuk superlatif  mengandung pengertian bahwa Allah akan menganugerahkan puncak dari segala hal yang terpuji  bagi semua hamba-Nya yang mau membaca. Terpuji di hadapan Allah, mulia di hadapan manusia karena  banyak ilmunya.

Pentingnya membaca ini pula yang kemudian menginspirasi Rasulullah mengambil langkah cerdas  pascaperang Uhud, 70 orang musyrikin Quraisy berhasil ditawan kaum Muslimin. Angka yang cukup fantastis untuk dijadikan alat tekan terhadap kabilah Quraisy di Makkah.

Namun, Rasulullah menempuh kebijakan lain. Sebagai gantinya, tawanan dibebaskan dengan syarat mengajari  membaca 10 Muslim. Rasulullah menyakini, membaca adalah langkah penting yang mengantarkan umat Islam ke gerbang kejayaan.

Pada akhirnya, berapapun biaya yang digelontorkan atau semegah apapun perpustakaan dan fasilitas yang kita miliki kalau tidak ada niatan akan  rasa kesadaran diri terhadap pentingnya literasi terkesan kurang berfaidah apa gunanya bangunan fisik, namun otak manusianya kosong.