RINDU PONDOK ULUMUDDIN CIREBON YANG DULU

RINDU PONDOK ULUMUDDIN CIREBON YANG DULU

Jamali Sahrodi Direktur Pascasarjana

Jamali Sahrodi, Direktur Pascasarjana

Pondok Pesantren Ulumuddin didirikan pada 1988 di kampung Karyamulya di Jalan Sekarkemuning Kota Cirebon. Pendirinya adalah K.H. Dr (HC).S. Sholahuddin, dosen IAIN Sunan Gunung Djati di Cirebon. Pendiri ini diposisikan sebagai sesepuh sedangkan pengasuhnya adalah Ir. Iwan Ridwan, putra sulung sesepuh. Pondok ini diminati oleh para santri dari kalangan mahasiswa, dan hanya sedikit dari para siswa sekolah menengah. Fenomenanya sangat mendukung pembelajaran bagi para mahasiswa terutama untuk materi kuliah keagamaan Islam.

Ketertarikanku mondok di Ponpes Ulumuddin dilatarbelakangi oleh minimnya pengetahuan agama  yang saya ketahui. Diriku merasa tersesat dari kesalahpahaman memilih program studi di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati di Cirebon. Dahulu tertera Jurusan PA, saya pahami sebagai jurusan Pengetahuan Alam. Dalam perkuliahan, saya menanti dengan bertanya-tanya mana materi Pengetahuan Alamnya? Saya berlatar belakang pendidikan SMA program studi A1 (Ilmu-Ilmu Fisik), sekarang digolongkan sebagai jurusan IPA. Atas dasar itu, saya ambil studi di IAIN yang terkait dengan background studiku di pendidikan tingkat menengah. Namun apa yang terjadi? PA itu Pendidikan Agama, bukan Pengetahuan Alam. Memang, di saat saya mendaftar di Fakultas Tarbiyah penyebutan prodi—kala itu—dengan sebutan PA, belum PAI (Pendidikan Agama Islam). Penyebutan prodi PA di IAIN Bandung ditujukan pada prodi Perbandingan Agama sedangkan di Cirebon sebagai Pendidikan Agama. Diriku merasa tertinggal jauh dengan kawan-kawan lain sekelas. Mereka rata-rata bisa berdalil baik dari ayat-ayat al-Qur’ân maupun Hadis. Selama dua semester, saya merasa kuliah tidak memperoleh sesuatu.

Ketika memasuki tahun kedua, saya memutuskan untuk masuk pondok pesantren agar dapat mengikuti perkuliahan sebagaimana teman-teman yang lain. Rata-rata mereka merupakan alumni Madrasah Aliyah dan Pendidikan Guru Agama (PGA). Mereka terbiasa membaca dan mempelajari teks al-Qur’ân dan Hadis bahkan mereka ada yang hafal. Materi keagamaan bagi mereka adalah makanan keseharian.

Setelah dibuka pendaftaran, saya mendaftarkan seorang diri. Saya adalah santri pertama, belum ada santri yang lain. Saya menempati salah satu kamar dari sepuluh kamar yang tersedia. Setiap malam diriku ditemani seorang remaja tetangga pondok. Namanya Hasan Basri, seorang karyawan di sekolah Yayasan Syarif Hidayatullah yang dimiliki oleh sesepuh pondok pesantren. Dia datang di tengah malam setelah diriku tertidur. Maklum, seorang remaja kampung biasa setiap malam “ngerumpi” dulu dengan teman-temannya. Setelah itu, Mas Hasan (biasa saya panggil) datang ke pondok untuk menemani malam gelapku di lingkungan pondok yang belum tersambung listrik. Selama beberapa hari saya merasa kesepian namun diriku tidak terpikirkan untuk keluar dari tempat yang sunyi itu. Saya masih memiliki harapan, di pondok ini saya akan belajar agama lebih serius.

Setelah beberapa kamar terpenuhi, maka pengajian dimulai dengan pembelajaran al-Qur’ân juz ‘Amma secara hafalan dan Kitâb Âjurûmiyah diampu oleh Kyai Sholeh (KH. Dr (HC) S. Sholahuddin). Materi Bahasa Inggeris diampu oleh Ustadz Hafsin Sobari, alumni Pondok Gontor dan Bahasa Arab oleh Ustadz Bisri Imam, Lc., alumni pondok di Arab Saudi. Selanjutnya, semakin bertambah santri maka semakin bertambah pula asâtidz (para ustadz). Tafsir Jalâlain diampu oleh Ustadz Ja’far Shodiq; Kitâb Minhâj al-Qawîm, Kitâb Mutammimah dan Kitâb Tafsîr Âyât al-Ahkâm oleh Ustadz Imâm Chambali, dari Kendal Astanajapura; Kitâb Nashâ’ih al-Ibâd oleh Ustadz Abdul Karîm dari Kuningan. Secara berkala pihak pengelola mendatangkan narasumber dari luar, semisal Bahasa Inggeris disampaikan oleh Drs. Abdul Hamid Nawawi dan Drs. Ahmad Asmuni, pemberi taushiyah Dekan Tarbiyah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati di Cirebon, Drs. H. Marzuki Dimyati, dari Losari Brebes yang masih kerabat pendiri IAIN Cirebon Prof. Thohir Taib Muin.

Terdapat hal yang unik, berbeda dengan pondok pesantren yang lain. Setiap akhir semester, di pondok ini diadakan ujian materi kitab. Waktu ujian terjadwal dan tempat ujian diberi nomor sehingga masing-masing santri mengikuti ujian tidak berdesak-desakan untuk menghindari saling contek. Ujian diupayakan semampu santri, tidak perlu mengejar dan berkompetisi untuk memperoleh nilai terbaik dengan menghalalkan segala cara. Diutamakan nilai kejujuran bekerja, penguasaan sejati tanpa contekan, kerja keras dan keikhlasan dalam bekerja.

Setiap akhir semester—setelah ujian—diadakan rihlah ‘alamiyah, yakni melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk melatih sensitivitas santri terhadap lingkungan alam. Semisal santri melakukan perjalanan dari Kuningan ke Cirebon melalui tepian bukit Ciremai dengan jalan kaki, mendaki Gunung Ciremai, menyusuri Kampung Suku Baduy baik luar maupun dalam, dan kami menginap di rumah-rumah penduduk Suku Baduy Dalam yang dipimpin oleh seorang Pu’un (Kepala Suku/Syaikh al-Qabîlah). Perjalanan ini memberikan kesan pada memori para santri setelah mereka keluar dari pondok.

Pengalaman perjalanan itu memberikan umpan balik kepada pesantren untuk melakukan perbaikan setelah sekian waktu melakukan kegiatan dengan menimba studi banding dengan pondok-pondok pesantren lainnya semisal ponpes di Banten. Di samping itu, tidak kalah pentingnya adalah kunjungan di tempat-tempat wisata yang dikunjungi oleh turis dari luar negeri. Hal ini menarik dilakukan karena para santri diperintahkan untuk praktek berbahasa Inggeris dengan native speaker. [Mal’s]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *