RINDU KEPADA SANG AYAH

Rindu kepada Sang Ayah

Prof. Dr. H. Jamali Sahrodi, M.Ag

Terngiang nasihat penuh kesyahduan yang dilontarkan oleh sang ayah di saat saya masih kecil. “Anakku, jangan membuat onar di tengah masyarakat”, ucap ayah. Nasihat itu kini kusadari memiliki makna yang dalam. Sebab ketika kita terlanjur berbuat onar di tengah masyarakat—apalagi berbuat kesalahan fatal—maka jatuhlah vonis sanksi sosial seumur hidup. Dikatakan kejam sanksi sosial , memang kejam. Namun hal ini harus dipahami sebagai early warning, bila kita ingin hidup di tengah masyarakat untuk dikenang dengan kebaikan selama-lamanya.

“Contohlah orang-orang baik, gaulilah mereka”, lanjut ayah. Teman sepergaulan akan berpengaruh dalam kehidupan manusia. Teman yang berperilaku baik, sedikit banyak akan memberi dampak pada tindakan, sikap dan perilaku diri seseorang. Begitu pula, pergaulan dengan beberapa teman yang memiliki perilaku dan akhlak yang buruk—sedikit banyak—akan mempengaruhi atau berbekas pada perilaku, cara berpikir atau tindakan temannya. Orang boleh memungkiri tapi bila direnungi dengan mempertimbangkan atau membandingkan pengalaman kawan-kawan yang bergaul dengan teman-teman yang memiliki berbagai karakter akan diperoleh kesimpulan sementara bagi dirinya. Yang tahu persis akan dampak pergaulan itu adalah diri kita masing-masing.

“Hiduplah dengan bersahaja, jangan melihat tampilan orang kaya yang glamour dalam berpenampilan”, ujar ayah. Ujaran itu merupakan nasihat terkait karakter dalam perilaku kehidupan keseharian. Menurut ayah, lebih baik bergaya hidup sederhana namun kaya hati. Kaya hati dapat dibangun dengan cara suka membantu orang lain dengan kemampuan yang ada. “Ringan tangan” istilah yang tepat guna menggambarkan orang yang suka membantu dalam pengertian positif. Boleh jadi, ada orang suka membantu namun dalam lingkup arti yang negatif namun tidak disadari oleh pelakunya sendiri. Umpama, seseorang membantu orang lain namun menggunakan fasilitas orang lain atau mengambil hak orang lain tanpa izin. Atau membantu orang lain dengan memberi uang hasil korupsi. Terlihat dermawan namun secara substansial—tindakan a-sosial—alias merugikan orang banyak. Dalam dunia perfilman dikenal dengan Robin Hood, yakni sang aktor mengambil harta orang lain dengan dalih untuk dibagikan kepada fakir miskin.

Saya menyadari dan menghayati perjalanan hidup sang ayah. Beliau lahir dari keluarga tak berharta, namun semangat hidup untuk mencari ilmu sangat tinggi. Kendatipun terseok-seok dalam mengikuti proses belajar mengajar di sekolah karena terkendala finansial, namun beliau tetap tegar dan rajin mengikutinya dengan penuh keprihatinan. Sang guru sering menjemput ayah untuk bersekolah karena tidak hadir beberapa kali pertemuan. Ketidakhadiran beliau dalam pembelajaran sekolah bukan karena malas namun beliau malu sering ditagih SPP (Sumbangan Pembiayaan Pendidikan) oleh guru bidang administrasi keuangan.

Atas nasihat dan pengalaman hidup ayah, saya terinspirasi untuk lebih giat dan rajin dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah hingga perkuliahan di perguruan tinggi. Seingatku, setamat SMA (Sekolah Menengah Atas), beliau memintaku untuk berhenti niat melanjutkan kuliah karena beliau merasa tidak mampu lagi membiayaiku untuk studi lanjut. Berkat semangat ibuku, saya dijanjikan untuk bias mengikuti lanjut kuliah dengan catatan menerima kekurangan pemberian keuangan dari orang tua. Solusi dari ibu ini yang saya ambil dengan tekad asal saya dapat melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Alhamdulillah, akhirnya saya dapat menyelesaikan program S1 pendidikan di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung di Cirebon tahun 1992, S2 (Program Magister) di IAIN Sumatera Utara, Medan tahun 1996 dan Program Doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2004.

Ayahku, Sahrodi dilahirkan di Desa Purbayasa. Sebuah desa di pinggiran Kecamatan Tonjong, merupakan wilayah bagian selatan Kabupaten Brebes. Orang menyebutnya sebagai Brebes Selatan. Tertera dalam Kartu Tanda Penduduk dilahirkan 21 April 1944. Beliau dipanggil ke rahmatullah pada 28 Desember 2014 di kampung kelahiran setelah menjalani operasi prostat dan menderita gangguan pernapasan.

Penyesalanku terhadap almarhum adalah saya tidak mendaftarkan naik haji lebih awal. Saya mendaftarkan tiga orang (isteriku, ibu dan ayah) pada tahun 2012 untuk naik haji. Di saat didaftarkan, mereka mendapat prediksi kuota untuk haji 2018, namun setelah dicek kembali malah bertambah untuk kuota 2019 dan kini setelah dicek kembali menjadi kuota untuk tahun 2020. Penyesalanku memang menjadi catatan diriku pribadi. Kadang dalam batinku bertanya mengapa dahulu tidak segera mendaftarkannya? Pelajaran terpenting dari peristiwa ini adalah saya harus lebih mengedepankan kewajiban diri dan keluarga untuk pengabdian terhadap Allah swt dari pada kepentingan duniawi yang bisa ditunda.

Meratapi penyesalan terus-menerus, saya pikir tidak akan membawa manfaat yang lebih banyak. Akhirnya, saya memutar alur pemikiran dengan cara akan diusahakan umrah terlebih dahulu untuk ibu dan isteriku. Saya berdoa semoga ibu tidak dipanggil Allah swt lebih awal sehingga batal menjalankan ibadah haji. Harapanku kepada Allah swt semoga ibuku diberi umur panjang sehinga dapat menjalani ibadah haji dengan sempurna sebagai dituntunkan oleh Rasul Allah saw. Kebahagiaan besar bagiku adalah jika saya telah mampu membahagiakan orang tua kendati pun belum seimbang dengan pengorbanan mereka terhadap diriku.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *