Membangkitkan Kembali Intellectual Community

dsc01711-2MEMBANGKITKAN KEMBALI INTELLECTUAL COMMUNITY

 

Sejak dibukanya program Pascasarjana di kampus IAIN Syekh Nurjati pada tahun 2004 telah  melakukan transformasi dari hari ke hari. Pembenahan di berbagai lini mutlak dibutuhkan sebagai tanggung jawab bersama civitas akademika dalam merespon berbagai tantangan global yang semakin hari semakin competitive. PPS IAIN memiliki 4 (empat) prodi dan sejak 2016 ditambah pembukaan Program Doktoral (S3) dengan program studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Tentu, hal ini merupakaan suatu kebanggaan yang senantiasa harus dijaga dan dikembangkan sebagai ikhtiar akademik yang menjadi suatu keniscayaan.

Membangkitkan (Kembali) Intellectual Community—mungkin—merupakan kata yang tepat sebagai gambaran upaya kerja keras bersama seluruh civitas akademika di lingkungan Program Pascasarjana (PPs). Pada tataran—pengelola lembaga—senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pelayanan, fasilitas, bahan bacaan, kompetensi  para dosen yang expert di bidangnya serta perkembangan substansi ilmu pengetahuan. Usaha itu tidak dapat menuai hasil yang maksimal  tanpa dibarengi respon positif dari segenap civitas akademika. Oleh karena itu, dituntut partisipasi aktif semua elemen baik mahasiswa, para staf karyawan,  dan para dosen. Diharapkan semua elemen saling bahu-membahu menghadirkan komunitas intelektual yang unggul dan bermartabat di lingkungan Program Pascasarjana pada khususnya dan di lingkungan IAIN Syekh Nurjati pada umumnya.

Perdebatan ilmiah terjadi dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Keislaman, Sosial dan Humaniora (FORKAISSOSHUM) PPs IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Tema pada diskusi ini adalah “Quo Vadis Pendidikan Islam di Indonesia”, dan sebagai pemakalah Dr. H. Taqiyuddin Masyhuri, M.Pd. Diskusi dilaksanakan pada hari Rabu, 15 November 2016 pukul 16.00 s.d 18.00 WIB di ruang kuliah gedung II lantai 1.

Kritik para peserta terhadap pemakalah, memandang kesimpulan yang diambil dalam  isi makalah dan penjelasan penulisnya menunjukkan kekurangmatangan dalam pengamatan. Begitu pula, minimnya data yang mendukung kesimpulan pemakalah, kurang komprehensif dan kurang representatif obyek yang diambil sebagai sampel pengamatan. Terkesan minim dan tidak selalu up date informasi keilmuan terkini. Namun demikian, secara keseluruhan jalannya diskusi cukup efektif dan produktif dalam mengeksplorasi gagasan yang tersimpan dalam benak pikiran para peserta.

Adapun ketentuan bagi peserta dan proses diskusi di kalangan dosen program pascasarjana adalah: (1) Tema diskusi disesuaikan dengan keahlian atau kompetensi penyaji, tidak keluar dari wilayah atau rumpun keilmuannya. Minimal hasil penelitian disertasi program doktor penyaji; (2) Kejelasan masalah yang dikaji; (3) Menggunakan tata krama intelektual (sciantific method); (4) Berbasis riset.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *