Kuliah Pascasarjana

Oleh : Jamali Sahrodi (Direktur PPs IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

pak direktur

Prof. Dr. Jamali Sahrodi, M.Ag

Minat untuk mengikuti studi di tingkat lebih tinggi pada jenjang akademik yang bergengsi menjadi impian bagi insan civitas akademik perguruan tinggi. Bahkan pada level pengajar di sekolah-sekolah, mengikuti studi lanjut di program pascasarjana sudah menjadi kebutuhan yang lumrah bagi para guru. Hal ini sudah menjadi tuntutan profesi para pendidik, juga pada kalangan para birokrat. Terlepas, apakah motivasi belajar mereka itu karena gengsi atau karena tuntutan profesi dan karena pribadinya yang cinta pada ilmu?

Hakikat proses pembelajaran pada perguruan tinggi memiliki filosofi tersendiri. Pembelajaran yang lazim digunakan untuk menerjemahkan kata learning (Bahasa Inggeris) merupakan suatu keadaan pada proses belajar mengajar yang lebih mengedepankan aktivitas peserta didik lebih kreatif dan proaktif. Peserta didik tidak bersifat menunggu informasi namun mengejarnya. Pengajar bersifat membimbing, mengarahkan dan mendialogkan topik yang dibicarakan dengan peserta didik.

Program sarjana (strata satu) berusaha mencetak mahasiswa dapat berpikir logis, rasional, dan faktual. Dalam penulisan penelitian atau karya ilmiah bagi mahasiswa level sarjana diarahkan mampu mendeskripsikan peristiwa, kasus, kejadian secara logis, rasional dan berdasarkan fakta yang ada. Kemampuan menjelaskan secara sistematis, runtut dan sesuai tata kerja logika merupakan standar yang diharapkan bagi seorang sarjana.

Seorang magister hendaknya mampu menganalisis suatu kasus, peristiwa, kejadian dan obyek penelitian. Kemampuan analisis merupakan karakter mendasar yang harus dimiliki sebagai kemampuan standar tingkatan magister. Kemampuan mengurai soal dan duduk perkara sesuatu menjadi ukuran kemampuannya. Bila ada seorang magister tidak mampu menentukan masalah, atau tidak mampu untuk mengurai dan memberi solusi maka pasti akan diragukan kemampuannya sebagai seorang master. Istilah master dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan magister. Kata master berarti “menguasai” sedangkan mastering  berarti penguasaan sesuatu. Seseorang dikatakan sebagai master atau magister berarti ia memiliki kemampuan penguasaan terhadap suatu disiplin ilmu. Bahkan seseorang yang mampu menguasai sebuah bela diri disebut sebagai master, contoh Master of Shaolin dan Master of Kung Fu. Walhasil, master itu merupakan spesialis. Dia memiliki kemampuan khusus pada bidang tertentu.

Kemampuan level Program Doktor tidak hanya mampu menganalisis obyek, kasus dan peristiwa saja namun ia harus mampu menemukan sesuatu yang baru. Kebaruan tidak mesti yang bersifat spektakuler, besar, dan teknis. Namun dapat pula kebaruan atas hasil pemikiran dan renungan yang sebelumnya belum ditemukan. Penelitian tidak hanya dimaksudkan pada penelitian empirik-kuantitatif semata tapi dapat pula pada penelitian kualitatif-empirik bahkan pada penelitian kualitatif-normatif.

Kuliah di program pascasarjana mengarahkan kepada peserta didiknya untuk memiliki kemampuan sebagaimana disebutkan di atas. Kemampuan menganalisis, berpikir kritis, dan logis serta komprehensif hendaknya dimiliki oleh mereka yang melakukan studi di program pascasarjana. Kajian atas berbagai literatur, hasil penelitian, dan book review harus dilakukan oleh para peserta program ini. Tuntutan ini dikehendaki oleh standar yang kini sedang dibangun dan sedang diimplementasikan oleh bangsa Indonesia. Standar itu mengarah pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Kerangka ini memiliki 9 level (tingkatan). Keahlian pada level Doktor masuk pada level kesembilan, sedangkan magister tergolong pada level ke delapan. [mal’s medio 19 Agt’16]

 

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *