Islam Nusantara

Prof. Dr. H. Jamali Sahrodi, M.Ag (Direktur Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati)

ISLAM NUSANTARA yang disusun oleh Ahmad Baso memberi pesan khusus kepada para pembaca. Ide penulisan berawal dari beberapa pertanyaan yang terlontar dari para santri tentang hakikat Islam Nusantara. Memang, tema Islam Nusantara sempat menjadi tema Muktamar NU ke-33 tahun 2015 di Jombang. Buku ini berbicara tentang Islam Nusantara dari sisi konstruksi atau racikan ulama-ulama kita, dari dalam pesantren, sebagaimana ditulis, didakwahkan oleh para ulama dan diamalkan oleh mayoritas bangsa kita. Relasi seimbang antara Nusantara dengan bangsa lain telah terjalin sejak dahulu dengan sebutan relasi negeri “Bawah Angin” dan negeri “Atas Angin”.

Relasi negeri “Bawah Angin” dan negeri “Atas Angin” dapat dijelaskan dengan ilustrasi paparan berikut ini. Pengalaman ini dialami oleh para intelektual muslim Nusantara berinteraksi dengan intelektual dunia. Dalam beberapa diskusi dengan para peminat studi pesantren dan Islam Nusantara, dijelaskan soal  alasan penyebutan negara kita sebagai “Bawah Angin”. Sebutan itu betul-betul berkarakter dalam menggambarkan soal pertemuan arus ide-ide antara Arab-Persia-India (yang disebut negeri “Atas Angin”) dan Nusantara kita.

Sebutan “bawah angin” untuk Nusantara (kini Indonesia) memberikan rujukan tentang dunia bahari kita yang kreatif dan tidak asal nrimo saja dari Arab atau dari bangsa manapun. Ada arus dari Arab yang kita terima, tapi kita juga membawa arus ke sana yang mereka akan terima. Posisi intelektual muslim Nusantara dengan intelektual muslim—bahkan non-muslim bangsa lain adalah seimbang, bukan superior-imperior.

Instrumen arus itu berbasis arah angin. Angin barat di musim hujan (sekitar Oktober hingga April) membawa kapal-kapal negeri Atas Angin ke Nusantara. Di sini mereka membawa barang, manusia dan juga ide. Tapi pas masuk musim kemarau (Juni hingga Agustus), arah angin berubah, ia bertiup dari timur ke barat. Maka giliran kapal-kapal kita yang bergerak ke negeri Atas Angin, membawa barang kita, manusia kita, termasuk ide-ide Nusantara kita.

Jadi, ISLAM NUSANTARA itu bukan subyek yang pasif, yang asal menerima saja apa yang datang dari Arab (Persia, India atau Eropa). Kita juga membawa kepada mereka sana ide-ide kita juga, mengolah ilmu mereka menjadi kekuatan kita, hingga kita bisa me-Nusantara-kan Arab, Persia, dan India hingga Eropa sekalipun.

Banyak hal yang harus dilakukan untuk meneguhkan kembali Islam Nusantara. Yang paling penting, harus ada semangat di kalangan para kyai, pengurus NU dan guru-guru di seluruh penjuru Nusantara untuk mewajibkan para santri dan pelajar di pesantren, sekolah, madrasah, kampus, dan di manapun untuk mengaji kembali khazanah Islam Nusantara. Gali kembali naskah-naskah kita yang dahulu menjadi kiblat umat Islam di dunia. Karya-karya Syekh Nuruddin ar-Raniri, karya-karya Kyai Haji Shaleh Darat, dan yang lainnya, atau karya-karya tulisan Islam Nusantara dalam bentuk hikayat, serat atau babad, harus digali kembali untuk memperkaya khazanah pemikiran dan kurikulum kita yang kebanyakan kini diisi ilmu-ilmu impor dari luar. Padahal imu-ilmu ulama kita banyak berisi ensiklopedia pemikiran jenius ulama Islam Nusantara. Bukan hanya jago membahas masalah-masalah agama, para ulama kita juga jago dalam meracik ilmu politik hingga ilmu ekonomi—yang bahkan di Arab maupun di Barat tidak dikenal sama sekali. Bahkan, lebih dari itu, Babad Mangkunegaran dari akhir abad ke-18, umpamanya, menyebut keahlian kyai-kyai kita dalam operasi militer dan penggunaan senjata berat seperti meriam dalam melawan Kompeni.

Kyai Shaleh Darat misalnya dulu menulis kitab dalam bahasa Jawa, tapi dicetak di Singapura, di India dan di Timur Tengah. Artinya dibaca orang di mana-mana. Padahal karya beliau cuma pakai bahasa Jawa. Begitu juga dengan manuskrip-manuskrip ulama Nusantara yang ada di perpustakaan Leiden, London, Paris, Berlin, Banda Aceh, Jakarta, Yogyakarta hingga Solo—semuanya perlu digali kembali dan harus dibaca oleh kalangan santri dan pelajar kita seluas-luasnya.

Kita perlu menekankan kembali penggunaan Arab pegon (dalam bahasa Jawa dan Madura), aksara Jawi (dalam bahasa Melayu) atau aksara Serang (dalam bahasa Bugis dan Makassar) bagi para santri. Penggunaan aksara-aksara sekarang ini sudah mulai menghilang. Banyak sekali santri dan pelajar kita yang tidak mengerti aksara pegon atau Jawi—apalagi dalam membaca kitab-kitab yang menggunakan aksara tersebut. Padahal itu adalah kekayaan khazanah ulama Nusantara kita. Bila santri-santri dan pelajar kita buta dan tidak tahu itu, bagaimana kita bisa meraih kembali kejayaan Islam Nusantara untuk pencerahan dunia masa kini dan masa depan?

Padahal itulah tujuan kita berbicara Islam Nusantara: kita yang mengekspor ide dan ulama ke luar, bukan mengimpor ide. Jangan seperti sekarang: kita malah mengekspor TKI/TKW—hingga kualitas kebangsaan kita di mata dunia jadi merosot…!


One comment

  • Mal's

    Angga…dalam upload usahakan yang ditampilkan sebagian saja, jangan full spt itu..!
    Tolong tanyakan caranya kpd Mba Ulfa…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *