IBUKU YANG INSPIRATIF

IBUKU YANG INSPIRATIF

Prof. Dr. H. Jamali Sahrodi, M.Ag

Di saat ayah pasrah atas ketidakberdayaan finansial dalam membiayai pendidikanku tetapi ibu masih optimis bahwa Sang Khalik akan memberi rizki hamba-Nya dalam mengarungi samudera kehidupan. Ibuku yang jebolan SR (Sekolah Rakyat) namun inspirasi dan semangat mendidik anaknya melalui lembaga pendidikan formal sangat tinggi. Pendiriannya adalah kendatipun beliau hanya seorang tamatan SR namun anak-anaknya harus lulus sekolah formal yang lebih tinggi levelnya.

Beliau mengizinkanku untuk melanjutkan studi di SMA dengan syarat saya mau menerima bekal seadanya, tanpa harus sesuai keinginanku. Siap prihatin—menerima keadaan nasib yang ada—tanpa ada paksaan dari yang lain. Ibuku memberi nasihat, “tidak ada orang berhasil di dunia ini tanpa usaha.” Kesungguhan, keprihatinan, sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup adalah modal utama guna memperoleh kesuksesan. Namun, tidak cukup dengan itu saja, kita harus berdoa, berusaha dan bertawakkal kepada-Nya.

Setiap manusia pasti diberi rizki oleh Allah swt. Namun, rizki itu harus diikhtiari untuk dapat diambil manfaatnya oleh kita. Jangan hanya menunggu saja untuk memperoleh rizki, harus ada aktifitas. Saya teringat syair pada Kitâb Talîm al-Muta’allim,  yang berbunyi: “likullin sya’wi al-‘ulâ harakât # wa lâkin ‘azîzun fî al-rijâli tsabâtun.” (Setiap pencapaian kemuliaan ada akativitas, dan untuk memperoleh kemuliaan bagi seseorang harus ada konsistensi). Maknanya, pencapaian kemuliaan harus dengan usaha (melalui gerak, aktivitas, dan tidak diam di tempat). Di samping ada usaha namun usaha itu harus dilakukan secara terus-menerus hingga tercapai sampai tujuan yang dimaksud. Jangan putus asa bila harapan itu tidak tercapai. Boleh jadi, Allah telah memiliki skenario lain dalam memberikan kesuksesan kepada hamba-Nya. Inilah makna tawakkal kepada Allah swt.

Setelah tamat SMA (Sekolah Menengah Atas), ayah memintaku untuk cari kerja karena beliau merasa kurang mampu untuk membiayai saya kuliah. Lagi-lagi ibuku kembali memberikan secercah harapan untuk mengizinkan saya bisa mendaftar ke perguruan tinggi. Saya yakin ibuku belum memiliki pengalaman studi di perguruan tinggi namun seolah-olah beliau telah berpengalaman. Dengan memberikan izin kepadaku, belum terpikirkan apa saja yang harus dipersiapkan untuk memasuki jenjang pendidikan tinggi itu, namun ibuku dengan mantap memberi izin kepadaku tanpa berpikir lebih panjang lagi. “Yang penting kamu sekolah sedang rizki datangnya dari Allah, manusia hanya berusaha saja”, tutur ibuku.

Saya diberi ongkos untuk pergi ke Cirebon guna mendaftar ke IAIN Sunan Gunung Djati di Cirebon. Dengan ongkos seadanya tanpa pikir berapa prediksi untuk ongkos transportasi, pendaftaran test masuk  kuliah dan konsumsi selama dalam perjalanan. Dari semangat memperoleh izin, bagiku merupakan suatu modal awal untuk dapat berkiprah dan berbuat sesuatu menuju cita-cita dan harapan. Saya tidak mempedulikan persoalan biaya yang harus ditanggung. Modalku adalah keyakinan sebagaimana ibuku bahwa Allah swt akan senantiasa memberikan rizki kepada makhluk-Nya yang mau berusaha menggapainya.

Saya tidak pernah protes kepada orang tua tentang besarnya wesel (kiriman bekal) tiap bulan. Berapapun diberi saya terima dengan lapang dada. Bagiku tabu menuntut tambahan kiriman dari orang tua. Belakangan diketahui bahwa selama saya kuliah dibiayai dari hasil buruh ayahku sebagai penggarap sawah orang. Dari upah borongan membajak sawah dikirimkan untuk biaya bekal kuliahku sekuatnya untuk mengcover dalam berapa bulan saja. Di saat orang tuaku belum memiliki uang untuk dikirim, ibuku kadangkala mencoba meminta dipinjami emas yang sedang dipakai oleh para keponakannya. Ternyata—kata ibu—saat itu mudah diperoleh pinjaman dari keponakan dan orang lain yang dipinjam harta miliknya. Gali lubang tutup lubang dilakukan oleh ibuku sebagai manajemen pengelolaan keuangan keluarga. Proses pengelolaan model ini berjalan hingga saya dapat menyelesaikan program sarjana (S1) pada 1992.

Sarjana diperoleh dengan jerih payah melalui pengelolaan manajemen keluarga ala kadarnya inilah yang telah membangkitkan semangat hidupku. Hingga akhir studi di program sarjanaku menyisakan hutang orang tuaku—secara finansial—sebesar Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah) kepada pihak lain. Mengapa masih menyisakan hutang itu? Dari hasil jawaban ibuku, tanah sawah yang semula digarap oleh ayahku telah dibagi waris oleh pemilik sementara kepada ahli warisnya yang sembilan orang. Akhirnya, ayahku hanya menggarap bagian kecil dari anggota keluarga penerima harta waris itu. Dampaknya, penghasilan ayahku dari upah yang diterima semakin kecil. Faktor ini juga yang menyebabkan adikku yang kedua, Mawardi, tidak bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi, karena penghasilan ayahku drastis menurun. Sehingga orang tuaku tidak mampu membiayai adikku. Selanjutnya, adikku yang kedua ini merantau ke Pekanbaru Riau guna memperoleh pekerjaan dan sekaligus jodoh pasangan hidupnya.

One comment

  • jamali sahrodi

    Harapan baik terhadap cita-cita ke depan merupakan bayangan yang ilusif namun bisa menjadi realitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *