RESENSI BUKU

(1) MEMBEDAH NALAR PENDIDIKAN ISLAM: Pengantar Ke Arah Ilmu Pendidikan Islammnpi

Penulis: Jamali Sahrodi dkk

X1viii + 176 hlm.; 210 x 140 mm; ISBN: 979-24-3003-2; Penerbit: STAIN Cirebon Press dan Pustaka Rihlah Yogyakarta; Cetakan Pertama: Desember 2005; Kategori: Bacaan Ilmiah Ilmu Pendidikan Islam

Dewasa ini, pendidikan Islam mengalami kompleksitas permasalahan yang tidak gampang untuk dipecahkan. Permasalahan tersebut tidak hanya pada tataran epistemologis-pragmatis tetapi juga pada tataran teknis-metodologis. Pada dataran epistemologis-pragmatis, pendidikan Islam masih terfokus pada tujuan yang bersifat defensif dan berorientasi hanya kepada kehidupan akhirat. Pada dataran teknis-metodologis, kaum muslim masih mempersoalkan adanya dikhotomi dalam sistem pendidikan Islam. Bahkan dikhotomi sistem pendidikan tersebut tidak hanya menyangkut perbedaan dalam struktur luarnya saja, tetapi juga perbedaan yang lahir dari pendekatan terhadap tujuan-tujuan pendidikan.

Buku ini merupakan hasil refleksi pemikiran para intelektual muda yang gelisah akan nasib pendidikan Islam secara umum, khususnya di Indonesia. Pembahasan dalam buku ini adalah berupa konsep dan gagasan tentang formasi yang ideal bagi pendidikan Islam saat ini dan ke depan.

Dengan hadirnya buku ini diharapkan bisa menjadi pedoman bersama dalam mendiskusikan peluang dan sekaligus tantangan dalam dunia pendidikan Islam ke depan. Ulasannya disampaikan dengan bahasa yang lugas dan dialektis sehingga dapat memberikan inspirasi dan menumbuhkan jiwa kritis bagi yang membaca.

(2) PENGANTAR FALSAFAH KALAMfalsafah-kalam

Penulis: Jamali Sahrodi

Kata Pengantar: Prof.Dr.HM. Imron Abdullah, M.Ag (Guru Besar Pemikiran Islam); Xxxii + 225 hlm; 210 x 139 mm; ISBN: 978-979-17666-3-0; Cetakan kedua, 2009; Penerbit: Pangger Press; Kategori: Bacaan untuk Mata Kuliah Ilmu Kalam

Kalam (Islâmic theology) dan falsafah (philosophy) adalah dua tradisi pengetahuan yang dikembangkan oleh pemikir-pemikir muslim. Keduanya digunakan untuk klarifikasi (clarification) dan pembenaran prinsip-prinsip agama Islam secara rasional, di satu sisi, dan dalam pencapaian ilmu-ilmu purbakala Yunani dan Hellenistik (lihat Watt, 1985:33-128) atau Roma-Yunani (falâsifah), pada sisi lain historisnya.

Itulah barangkali, yang dapat dipahami dari kedua wacana yang berkembang sekitar empat belas abad lalu. Akan tetapi, seiring dengan conjuncture sosial, budaya, politik dan intelektual umat Islam, hal ini menimbulkan polemik berkepanjangan. Pertentangan tersebut, setidaknya dapat dilihat karena dua alasan: pertama, bahwa awal muncul perbincangan keduanya itu disinyalir karena “keterpengaruhan” akulturasi budaya non-Islam (baca: the pre-Islâmic religion) dan kedua, bahwa setelah kalam dan falsafah sering digunakan sebagai dalil (argumentasi) para tokoh pemikir (baca: Muttakallimîn dan filosof muslim) pasca era Rasulullah Muhammad, seringkali menimbulkan suatu schism tersendiri dalam perkembangan pemikiran Islam hingga kini.

(3) QASIM AMIN: SANG INSPIRATOR GERAKAN FEMINISME

qaPenulis: Jamali Sahrodi

xx + 164 hlm; 17,5 x 25 mm; ISBN: 978-602-9492-84-2; Cetakan pertama 2013; Penerbit: Arfino Raya Bandung; Kategori: Bacaan Umum Pemikiran Islam

Perjalanan sejarah panjang gerakan feminisme kini menuai hasilnya. Dalam dunia Islam, gerakan ini sudah dimulai sejak Rifa’ah at-Tahtâwi, seorang imam pelajar Mesir di Perancis, dilanjutkan oleh penerusnya yakni Muhamad Abduh yang concern pada isu emansipasi wanita yakni Qâsim Âmîn. Pejuang emansipasi wanita inilah yang menggoreskan tintanya dengan melahirkan dua buku, Tahrîr Almar’ah  (Emansipasi wanita) dan AlMar’at AlJadîdah (wanita modern). Buku ini patut dibaca untuk melihat perkembangam pemikiran Islam dalam aspek gerakan emansipasi muslimah. (Prof. Dr.Maksum Mukhtar, MA . Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon).

Qâsim Âmîn (1908-1965) merupakan pionir yang sangat serius dalam menggagas emansipasi wanita di kalangan umat Islam sehingga menghebohkan publik di zamannya. Untuk menghindari sakwasangka yang tidak mendasar terhadap pemikirannya, alangkah lebih baik membaca buku ini secara utuh, nanti akan memperoleh gambaran yang kemprehensif tentang pembaruan pemikiran  Qâsim Âmîn. (Dr. M. Afif Anshori, M.Ag, Wakil Rektor III IAIN Raden Intan Lampung).

Buku Qâsim Âmîn: sang inspirator Gerakan Feminisme merupakan karya yang memberikan inspirasi bagi gerakan feminisme untuk mewujudkan gerakan Gender equality. Buku ini mengelaborasi gerakan feminisme dalam dunia Islam secara gradual (Dr. Makrum, M.Ag. Direktur Pascasrajana STAIN Pekalongan). Pemikiran Qâsim Âmîn yang sangat memadai tertuang dalam substansi buku ini. (Dr. Maksum, M.A. Dekan Fakultas Ushuludin Sunan Ampel Surabaya).

Ketekunan dan kesabaran dalam penulisan buku ini tergambar dalam paparan pemikiran emansipasi wanita Qâsim Âmîn yang dielaborasi secara gamblang oleh penulisnya. (Dr. Hasbi Ashashiddiqi, MA. Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Sultan Thaha Syarifuddin Jambi). Ulasan pemikiran yang inspiratif mengenai emansipasi wanita muslimah terdapat dalam gagasan pembaru dari Mesir yakni Qâsim Âmîn. (Prof. Dr. H. Muhtar Solihin, M.Ag, PR II UIN Sunan Gunung Jati Bandung).

(4) FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAMÎ

fsiPenulis: Jamali Sahrodi

Kata Pengantar: Prof. Dr. Maksum Mukhtar, M.A (Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam); xvi + 136 hlm; 17,5 x 24,5 mm; ISBN: 978-602-8634-86-1; Penerbit: Arfino Raya; Cetakan pertama, 2011

Kategori: Bacaan Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam

Sebagai hasil pemikiran yang bercirikan Islâmi, filsafat pendidikan Islâmi pada hakikatnya adalah konsep berfikir tentang kependidikan yang bersumber atau berdasarkan ajaran Islam, sedangkan tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam. Bila dilihat dari fungsinya, maka filsafat pendidikan Islâmi merupakan pemikiran mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses melaksanakan pendidikan yang Islâmi. Oleh sebab itu, dalam memahami dan mempelajari filsafat pendidikan yang Islâmi itu seyognyaya dapat memberikan gambaran tentang sejauh mana proses tersebut dapat direncanakan dan dalam ruang lingkup serta dimensi bagaimana proses tersebut dilaksanakan.

Buku filsafat pendidikan Islâmi, berusaha mengangkat problem pendidikan Islâmi yang dianalisis secara sistematis, logis, rasional, dan komprehensif.

(5) INTELEKTUALISME POLITIK DALAM PENDIDIKAN: KRITIK ATAS GAGASAN DAN       PRAKTIK KAPITALISME PENDIDIKAN

intelektualisme-politik-pendidikanPenulis: Jamali Sahrodi

40 hlm; 14,4 x 20,5 mm; Cetakan pertama, 2010; ISBN: –tidak ada–; Penerbit: Pangger Press dan Sejati Press; Kategori: Bacaan Umum/Orasi Ilmiah

 Tulisan ini merupakan bahan orasi ilmiah yang disampaikan pada Dies Natalis IAIN Syekh Nurjati Cirebon ke-45, berbarengan pula dengan kegiatan wisuda Pascasarjana dan Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada periode 2010. Gagasan Intelektualisme Politik dalam Pendidikan ini hadir karena dianggap sangat penting untuk disampaikan mengingat dua hal. Pertama, banyaknya kesalahpahaman terhadap kebijakan politik, termasuk dari kalangan cendekiawan. Kedua, dalam kehidupan masyarakat modern (pascamodern) sedang tumbuh gejala pencarian makna intrinsik manusia dengan berbagai cara dan dari berbagai macam sumber, termasuk dari agama-agama. Orasi ini bertujuan menjelaskan pengertian sesungguhnya intelektualisme politik pendidikan dalam perspektif filsafat pendidikan Islâmî. Filsafat pendidikan Islâmî sebagai pisau analisis akan menelisik lebih mendalam akan persoalan-persoalan dalam lingkup pendidikan.

Membincangkan tema pendidikan Islam harus dibedakan dengan dakwah Islam. Diakui Azyumardi Azra bahwa memang pendidikan Islam pada awal pertumbuhannya bersentuhan dengan upaya-upaya dakwah Islamiyyah. Hal ini terbukti dengan dijadikannya rumah al-Arqam sebagai pusat pendidikan Islam sekaligus pusat dakwah Islam. Akan tetapi, melalui proses historis yang panjang, pendidikan Islam lambat laun memformalkan dirinya menjadi sebuah sistem pendidikan Islam yang berbeda dengan dakwah Islam. Menurut Muhammad Jamâl, keduanya dapat dibedakan dari segi objek formalnya. Objek pendidikan Islam adalah subjek didik yang dididik dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat, sedangkan objek dakwah Islam adalah masyarakat yang menyimpang dari ajaran Islam, sehingga para rasul diutus untuk meluruskannya.

(6) METODOLOGI STUDI ISLAM: Menelusuri Jejak Historis Kajian Islam ala Sarjana Orientalis

msiPenulis: Jamali Sahrodi

Kata Pengantar: Prof.Dr. Khoiruddin Nasution (Guru Besar Pemikiran Islam); 240 hlm; 15 x 20,5 mm; ISBN: 978-979-730-951-0; Cetakan pertama, Rabi’ al-Âkhir 1429 H/Mei 2008 M.; Penerbit: Pustaka Setia Bandung; Kategori: Bacaan Mata Kuliah Metodologi Studi Islam

Studi tentang Islam di kalangan para sarjana orientalis telah dilakukan sejak lama, mulai dari semangat misionaris, kolonialis, politis, hingga emansipatoris. Secara substansial, buku ini berusaha memaparkan kajian-kajian Islam yang telah berjalan di kalangan para orientalis. Harapan penulis dengan pemaparan ini akan membuka mata umat Islam, sekaligus mengambil pelajaran dari sikap kritis, sinis, empati, dan simpati para orientalis dalam mengkaji Islam. Kita jangan a-priori terhadap pemikiran orang lain, tetapi sepatutnya lebih bersifat empati dan kritis. Dengan demikian, umat Islam tidak terjebak pada fanatisme buta dan sikap arogan yang sesungguhnya kurang bermanfaat bagi pelakunya. Sejelek apa pun sebuah kajian akan ada manfaatnya.

(7) PLURALISME DALAM BERAGAMA: USAHA MEMAHAMI AJARAN ISLAM MELALUI PENDIDIKAN

pluralisme-pendidikanPenulis: Jamali Sahrodi

Kata Pengantar: Penulis; xii  + 232 hlm; 17 x 24 cm; ISBN: —-; Penerbit: Nurjati Press; Cetakan Pertama: Oktober 2015; Kategori: Bacaan Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam

Wacana masyarakat di alam modern memiliki beberapa persoalan yang sangat kompleks. Mulai dari persoalan masyarakat civil (civil society)- ada juga menyebutnya sebagai masyarakat madani-hingga masyarakat pluralistik. Semua itu mengarah pada upaya penguatan masyarakat (empowering society).

Masyarakat mengalami perkembangan dan perubahan yang sangat fundamental. Apalagi  bila dihadapkan dengan masyarakat beragama, maka problem kemasyarakatan menjadi lebih kompleks. Kompleksitas problematika itu memerlukan penangananan yang komprehensif dan serius. Mengingat kehidupan dalam masyarakat majemuk (plural). Hal ini membutuhkan sikap orang-orang yang memiliki wawasan luas, sabar, dan toleran terhadap sesama. Ketika kita siap menjadi masyarakat pluralistik maka kita harus siap dengan prinsip-prinsip hidup masyarakat pluralis.

Buku ini menggambarkan secara komprehensif tentang arti pluralisme dan kehidupan yang pluralistik. Ajaran kehidupan menjadi plural adalah sebuah keniscayaan Tuhan yang tak terelakan.

(8) KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN: MEMAHAMI SELUK BELUK PENGELOLAAN LEMBAGA PENDIDIKAN

kepemimpinan-pendidikanPengantar/editor: Jamali Sahrodi

xx + 268 hlm; 17 x 24 cm; ISBN: 978-602-9074-15-4; Penerbit: Nurjati Press; Cetakan Pertama: Maret  2015; Kategori: Bacaan Mata Kuliah Manajemen Pendidikan Islam

Kepemimpinan pendidikan adalah satu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengoordinir dan menggerakkan orang-orang lain yang ada hubungan dengan pengembangan ilmu pendidikan dan melaksanakan pendidikan dan pengajaran, supaya seluruh aktivitas yang dijalankan dapat lebih efektif dan efisien di dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan.

Materi yang dibahas buku ini adalah seputar kepemimpinan dalam pendidikan (leadership of education) yang merajut berbagai bacaan yang mengupas sejak dari tipe dan gaya kepemimpinan hingga prinsip-prinsip yang harus dihindari oleh pemimpin. Secara umum di dalam buku ini lebih banyak memberi gambaran mengenai wawasan kepemimpinan yang harus dimiliki oleh para pengelola lembaga pendidikan.

Gambaran umum pembahasan buku ini meliputi dua aspek, yakni aspek teoritik dan aspek praktik. Bagian pertama, secara teoritik, mengupas apa makna kepemimpinan dalam pendidikan serta sifat-sifat kepemimpinan. Bagian kedua, sejatinya lebih memperkenalkan hasil pengalaman yang dituangkan dalam tulisan yang bersifat menjelaskan tentang praktek kepemimpinan dalam pendidikan.