Mengokohkan Perguruan Tinggi

Salah satu yang diajarkan dalam disiplin ilmu statistika adalah bagaimana membuat prediksi atau peramalan (forecasting), yaitu meneropong masa depan berdasarkan data masa lalu. Jika misalnya ditanya berapa perkiraan harga bensin per liter pada tahun 2050? Maka jawaban perkiraannya bisa didasarkan atas kecenderungan (tren) harga bensin masa lalu dari waktu ke waktu. Adapun tentang kebenarannya, tentu saja bersifat probabilistik, yaitu kebenaran yang dibayang-bayangi oleh kemungkinan adanya kesalahan (meleset). Bisa benar, bisa jadi ternyata salah. Namun demikian, sepanjang prediksi tersebut ditempuh melalui metode yang baik (terkait pengambilan sampel, pengukuran, dan analisisnya) maka kemungkinan terjadinya kesalahan (meleset) tersebut relatif kecil.

Dalam beberapa hal, meneropong masa depan memang sangat penting, misalnya adalah bertujuan untukpengendalian. Sebagai orangtua, memikirkan dan menyiapkan masa depan anak-anaknya adalah penting. Sebagai pemimpin perusahaan, memperkirakan kesuksesan penjualan produk-produknya adalah juga penting. Bahkan, bisa dikatakan, mereka yang mudah meraih kesuksesan adalah mereka yang memiliki pandangan jauh ke depan (visioner).

Demikian juga dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) sebagai lembaga pendidikan. Adalah sangat penting untuk meneropong bagaimana PTKI 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan, 50 tahun ke depan, dan seterusnya. Apakah di masa depan PTKI semakin baik? Masih sama dengan hari ini? Menurun? Atau bahkan sudah gulung tikar?

Apakah hari ini pendidik di PTKI mengkhawatirkan runtuhnya pendidikan Islam, seperti Nabi Ya’qub menghawatirkan agama anak-anaknya menjelang kematiannya? Atau, apakah hari ini pendidik justru sibuk meributkan besaran gaji hingga melupakan tugas mulianya?

Bagaimana kita semua tidak mengkhawatirkan prediksi yang disampaikan Rasulullah, “akan datang suatu zaman di mana tidak tersisa dari Islam, kecuali tinggal namanya saja…(HR Baihaqi)” sedangkan kita tahu bahwa Rasulullah tidak menyatakan sesuatu melainkan berdasarkan atas wahyu?

Artinya, benar-benar nanti akan ada suatu masa, di mana gedung PTKI masih ada, pimpinannya masih ada, dosen-dosennya masih ada, mahasiswanya masih ada, perkuliahannya masih ada, tapi pada masa itu sudah tidak ada lagi nilai-nilai Islam di dalamnya. Seminar Keislaman masih ada, tapi sekadar dipresentasikan di atas meja. Buku-buku keislaman masih ada, tapi hanya menjadi bacaan untuk bahan diskusi. Pakaiannya masih menutup aurot, tapi perilakunya sudah menjauh dari ajaran Islam.

Kita semua berlindung kepada Allah swt, semoga kita dan anak-cucu kita tidak hidup pada zaman itu. Semoga zaman itu masih lama adanya. Mungkin ribuan, atau jutaan tahun lagi. Dan, kita hanya pantas terhindar dari zaman itu jika hari ini kita berjuang mengokohkan PTKI.

(Ditulis oleh: Budi Manfaat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *